"Untill you realize that no one will understand and 'can be' understand you about anything in your life, except youself. "
[1]
Jumat, 15 Juli 2016
Sabtu, 20 Februari 2016
I wrote it on tissues, because that's the only paper we had.
"If we can catch our dream together. No matter how far we go, we have to meet each other." —February 20, 2016
"Netherlands."
"Germany."
"Well.. let say UK and France for vacation." He said slowly.
"Viva La Europe!!." I said. We looked each other—then laugh.
... far away from we sat, Coldplay song just played : "My missionaris in a foreign field; For some reason I can't explain; I know St Peter won't call my name; Never an honest word; But that was when I rules the world." (Viva La Vida)
My
Rabu, 17 Februari 2016
Malam memang tempat baik untuk berduka dengan hati. Begitu pula malam ini, ketika saya memutuskan untuk menulis sesuatu, pertanyaan berbalik kembali "apa lagi yang mau kamu tulis?", "inspirasi apa lagi kali ini?", "masih begitu saja?". Yang terakhir yang paling menyakitkan. Hampir semua cerpen yang saya tulis disini adalah bentuk perasaan final yang tak pernah saya utarakan didepan orang-orang terdekat. Can people call it lonely? Maybe, saya mungkin punya banyak sahabat yang setia mendengar dan memberi arahan kemanapun yang baiknya saya lewati. Tapi tidak selain disini, setiap tombol huruf yang saya tekan adalah bentuk pena tak terlihat yang bergerak bukan karena apa yang saya inginkan, tapi bahasa dari dalam diri yang menggerakkan. Saya sedikit bersyukur hidup dalam era dimana dunia maya terkadang adalah sahabat yang cukup mengerti.
Kembali lagi, beberapa saat lalu saya bertemu Ara. Ara sebenarnya adalah nama pena dari seseorang yang, entah kenapa—sebenarnya hanya satu orang. Tapi sosoknya bisa saya temukan dibeberapa orang dalam hidup saya. Tapi kali ini benar-benar Ara, Ara yang pertama—dan saya berdoa dia juga Ara yang terakhir. Masih sama, belum ada perubahan dari cara dia berjalan, cara dia menggerakkan tangannya saat kakinya bergerak, cara dia melihat sekitar sebelum dia melihat fokus kedepan, cara dia tersenyum seperempat gigi ketika mata ini bertemu, cara dia tertegun sedikit dengan tangan kiri yang mengepal di mulut menahan tawa kecil, cara bisa melambai pelan, cara dia bicara dengan logatnya. Sedihnya, Ara benar-benar membuat saya merasa pulang hari itu. Beberapa kalimat bijak pernah berkata bahwa, 'rumah' bukan hanya sebuah tempat bagi seseorang. 'Rumah' adalah perasaan dimana kau merasa disitulah dirimu pernah berada, dengan bagaimana dirimu apa adanya. 'Rumah' bisa berupa tempat dimana dirimu pernah membuat memori yang akan teringat sepanjang masa. 'Rumah' juga bisa berupa seseorang yang dengan melihatnya, dirimu merasa tenang dan entah bagaimana—seakan tidak perlu berpura-pura lagi didepannya. Ara adalah salah satu dari rumah yang saya miliki, selain bapak dan sahabat nomor satu di dunia saya.
Kami bertukar pandang tidak percaya, bagaimana waktu merubah begitu banyak garis wajah yang dulu sangat ceria dan berisi, kini garis itu lebih tegas, mata yang lebih hangat dan senyum yang lebih tegar dari sebelumnya. Saya tersenyum hangat, berusaha memeluk momen dengan perlahan.
"Sehat?." Kata saya sembari bersemangat. Dia masih tertawa kecil. Saya juga kembali tertawa kecil, sedikit tidak percaya, waktu benar-benar keajaiban yang tidak bisa disangkal manusia.
"Alhamdulillah." Kata dia lembut.
Kami berjalan pelan. Seperti biasa, saya bukan tipe orang yang suka mendinginkan suasana. Ini bukan pertemuan canggung karena kami sudah saling mengenal selama hampir 6 tahun. Saya membuatnya tertawa dengan komentar badannya yang sekarang lebih kurus dan tingginya yang sudah bertambah. Sembari menanyakan kabar—entah kenapa, tingkah laku yang tiba-tiba biasanya saya munculkan didepan orang tua saya keluar begitu saja. Sedikit melirik kearahnya sembari bicara dan terus bercerita dengan bersemangat, sesekali membuat ekspresi dalam bicara, mengomentari apapun yang saya lihat didepan saya, membuat guyonan kecil lalu tertawa sendiri. Dia diam mendengar seraya memperhatikan saya bicara dengan senyum tiga perempatnya.
"Kamu masih sama." Kata-kata yang membuat saya terdiam dari bicara yang panjang, lalu melihatnya sambil mengangkat sebelah alis.
"Masak?."
Dia mengangkat bahu dengan ekspresi tidak tahu menahu lalu berjalan memimpin didepan, meninggalkan saya terdiam.
...
Saya mungkin sama seperti wanita lainnya, mungkin juga berbeda. Momen yang akan terus saya kenang mungkin hingga nanti, ketika saya benar-benar menemukan seseorang yang tepat; entah siapa nantinya, adalah ketika saya ingat melihat matanya pada siang lalu itu. Memohon untuk berhenti, memohon untuk pergi. Tanpa tiada seorang pun yang tahu, saat itu—mungkin di masa mendatang—bahwa dia benar-benar pernah datang dan tulus memberi sesuatu yang berharga. Dan disaat itu pula saya tetap berusaha ingin pergi.
Senyum Tiga Perempat—Bahkan hal yang sederhana akan terus tergiang jika kita benar-benar ingin mengingatnya. Dan saya memutuskan untuk terus mengingatnya, Ara.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
(ARA—mimpi saya masih sama, saya tetap ingin membuat novel sebelum umur saya sampai 30. Mimpi yang pernah saya tulis di buku harian ketika saya di bangku Sekolah Dasar. Masih banyak buku sastra yang musti saya baca, dan mungkin—masih harus banyak pengalaman yang harus saya jalani. Tapi jika suatu ketika saya sudah sampai, ARA akan menjadi judul pertama saya. Amin.)
Kamis, 01 Oktober 2015
Dia membalik badan, tidak sekalipun
menoleh lagi. Entah bagaimana raut mukanya bercampur muram, puas, dan
pandangannya sedikit.. terluka. Dia
berjalan cepat, seakan meninggalkan segalanya larut dalam pondasi waktu yang
lamban. Adrenalin seorang wanita bukan seharusnya seperti ini, karena biasanya
wanita akan menangis lalu tetek bengeknya akan berpuisi luka dalam hati. Tapi
justru dia berdoa dalam hati untuk tidak beri rasa apa-apa oleh Tuhan, dia
berharap tidak menitikkan air mata, dia berharap tidak berpuisi, dia berharap untuk tidak kembali.
Sebelumnya, bahkan sikap dan gayanya pada
saat itu sudah menunjukkan bahwa dia peduli. Dia memberanikan diri mengatakan
pada dunia—pada dirinya sendiri, bahwa dia telah membuka hati. Baginya perasaan
ini yang sudah lama ditolaknya adalah perasaan ketergantungan, tapi semakin dia
terluka, semakin dia mencoba lari—dan semakin itu pula akhirnya jawaban seakan
membawanya kembali. Bodoh, tapi dia
merasa bukan dia yang bodoh, dia menyukai lelaki yang bodoh.
Bukannya keberadaan dan nyatanya seseorang
ada disana bukan hal yang mustahil tidak terlihat? Dalam setiap tikungan yang
ada, dia hanya menonton orang baru yang datang lalu membuatnya dilupakan, orang
yang datang dengan keindahannya membuat segalanya serasa salah dan percuma.
Sedangkan dia hanya mendengarkan lalu memberi senyuman mendukung, lalu..
mendukung atas apa? Atas hatinya yang bersembunyi? Bukan. Atas bagaimana orang
bisa tidak melihat kabaikan yang ada ketika melihat keindahan semata. Dan
sekali lagi, waktu hanya memberi kesan kosong atas kejadian yang tidak bernilai
sama sekali. Buatnya semua seakan abu-abu. Buatnya semua seakan sama. Buang-buang waktu,
Dan seperti ucapannya dalam hati ketika dia
berjalan cepat saat itu, dia tidak ingin
kembali. Seseorang lebih pantas mendapat ini daripada dia, seseorang lebih mengerti dan pada akhirnya.. seseorang akan lebih menghargai. Bukankah
cukup jika kau mendapatkan hal sesederhana dihargai? Ini bukan soal bagaimana
menemukan orang yang tepat lalu menyimpan rasa yang tulus terhadapnya, tapi
tentang bagaimana seseorang bisa dilihat keberadaannya, bukan hanya fisiknya,
tapi jiwa.. hatinya. Dan akhirnya..
saat berbelok ditikungan suara-suara memanggil namanya dari belakang, dia tidak
menoleh dan terus berjalan—seperti hati wanita itu yang perlahan tergerak
untuk pergi.
Sabtu, 28 Februari 2015
Kami bergegas lari, setelah karcis tiket kami lolos dari pengawasan dan jam stasiun berdenting tajam 3 kali, kami hanya punya 2 dentang lagi sebelum kereta berjalan. Tapi kami berdua masih berlari konyol, sembari tertawa memegang tas bawaan kami, sore itu sehabis hujan dan udara terasa sejuk nyaman dengan ditemani rintik hujan kecil. Kami berhenti di depan gerbong dan dia menyuruhku masuk lebih dulu dengan gaya tangan mempersilahkan, dalam hati bergumam "hah yang benar saja.." aku menaiki pintu gerbong tanpa undakan dan itu terasa sulit bagiku mengingat badanku yang cukup mungil untuk ukuran wanita dewasa. Dia mengambil satu tas berat ditangan kiriku yang, .. yaa bisa dibilang mengusahkanku untuk masuk. Setelah sudah didalam, dia menyusul dibelakang dan kereta tepat berjalan. Kami menghela nafas lega di pertengahan peron, kami menyenden berhadapan dan memandang satu sama lain lalu tertawa lagi. Dia menyalurkan tanganku meminta tiket kami, setelah kuberikan dia memimpin jalan dan kami mulai mencari tempat duduk.
Setengah perjalanan kami isi dengan mengobrol berat. Mengenai rencana kuliah setelah ini, bagaimana kami akan menghabiskan waktu liburan, ajakan untuk traveling bersama. Dan siapa sangka, ini pertama kali kami pulang bersama dimana dia akan mampir ke kota asalku. Aku menghela nafas sebentar setelah perbincangan panjang kami, kucek jam tangan di tanganku dan waktu menunjukkan pukul enam lebih. Aku menoleh melihatnya, dia menutup matanya mencoba untuk tidur. Aku tertawa meringis dalam diam lalu menoleh kearah jendela kereta, memperhatikan langit yang kini sudah menampilkan gradasi warnanya. Seakan matahari melepas keberadaannya dengan digantikan biru gelapnya langit malam, awan putih mengepul siaga dilangit-langit angkasa. Sayang sekali aku tidak ada kamera untuk menyimpan gambar itu. Seketika mataku tertuju menuju bungkusan tas persegi dibawah kakiku. Jantung ini berdegup sedikit cepat, aku selalu ceroboh dalam melakukan kejutan, mungkin beberapa berhasil dengan bantuan orang-orang. Seperti ulang tahun ayah atau keluarga yang memang kami atur bersama. Kali ini, aku sendirian, dan kali ini tidak boleh gagal. Ingatku dalam hati.
"Tidur?." Kataku menyenggol lengannya. Dia membuka mata dan refleks melihatku.
"Belum. Kenapa?." Katanya. Aku mengernyit, berpikir.
"Hm.. sudah berapa orang yang menelponmu hari ini?." Dia melipat alisnya yang tebal hingga seakan segaris.
"Memang segitu banget ya?." Katanya sembari membuang muka. Aku sedikit terkejut.
"Ibumu? Ayahmu?." Tanyaku lagi, heran. Dia melihatku keheranan.
"Hanya sebatas sms saja. Mereka tidak heboh. Memangnya kamu?." Katanya sedikt tertawa. Aku sedikit tersinggung mendengarnya.
"Aku?." Kataku menekankan suara. Dia sedikit siaga, seakan menungguku meledak.
"Iya. Aku kan laki-laki, memang harus dengan dikirimin makanan dan paket segala?." Katanya lagi. Wajahnya tenang, mencairkan suasana. Aku terdiam cukup lama.
Dia mengenakan headsetnya dan mulai mendengarkan lagu. Aku membuka buku favoritku dan membaca. Kami mulai lunglai dengan kesibukan masing-masing. Aku mengingat dia pernah bercerita bahwa pada hari kelahirannya, saat itu ibunya belum meninggal dan adiknya belum ada. Ibunya selalu menyiapkan makanan favorit dia, ayam kaldu dan pepes terong. Dia bercerita bahwa pepes terong bikinan ibunya benar-benar tiada dua, sungguh aneh membayangkan wajah pria seperti dia yang dikagumi hampir wanita satu jurusannya memiliki selera kedesa-desaan. Dan dari ketidak warasan kami dalam menilai masing-masinglah yang membawa kami menjadi sahabat karib selama masa awal perkuliahan. Saling membantu satu sama lain walau jurusan kami berjauhan, ocehan cerewet dia dalam mengomentari kendaraanku yang kotor tidak pernah kubersihkan, dan ya.. pada akhirnya dia yang turun tangan membersihkannya, lalu kebiasaan dia yang belajar untuk ujian H-12 jam bahkan dengan sks lebih dari 4 adalah malapetaka yang sulit kubayangkan. Dia dengan lagak bijaksananya menjelaskan bahwa dengan belajar terlalu giat dari kapan lalu akan merusak sel otak karena terlalu sering dipikirkan, sungguh bukan teori biologis yang masuk akal dalam pengalaman pendidikan manapun yang pernah kuketahui. Tapi lucunya, nilai kami selalu balapan, dengan jangka waktu belajarku yang lebih panjang dari dia, dia bisa dengan santai seakan berjalan bersebelahan denganku, ya.. setidaknya dalam hal akademik. Aku menyenggol dia lagi, dan dia menoleh padaku seraya membuka headsetnya. Menungguku bicara.
"Memang tidak ada wanita spesial yang memberimu selamat?." Kataku langsung pada inti. Dia menatapku sedikit lama dan akhirnya menggelengkan kepala. Aku menyiasati mencoba menyalurkan pandanganku padanya.
"Mungkin kau yang tidak peka..." Kataku.
"Memangnya aku harus begitu?." Katanya menskak ku. Demi Tuhan.. aku merasa terserang dengan ucapannya. Aku tertawa kecil.
"Aku hanya bertanya."
"Itu bukan tanya, itu memberi anggapan." Katanya singkat. Aku diam, dalam hati menyumpah serapah seandainya jika laki-laki ini bukan sahabatku mungkin aku sudah berbohong dan pergi lalu memutuskan duduk dengan penumpang lain.
"Ya oke. Aku hanya penasaran." kataku akhirnya. Kami duduk dalam diam, kini aku menggunakan headsetnya dan dia sibuk berdiam diri, menatap kosong kedepan. Tiba-tiba dia menyenggol lenganku dan melihatku. Aku membuka headsetku dan menunggunya bicara.
"Aku tidak pernah baik didepan wanita. Mengambil langkah untuk memiliki hubungan, tau kan? Dengan kekakuan kita nanti, haha lucu membayangkan jika aku akan begitu nanti. Semua terjadi semenjak apa yang dilakukan ayahku padaku, pada ibuku. Maka dari itu, sejak ibuku meninggal disaat aku masih sekolah dasar, dan aku harus tinggal dengan ibu angkat dan anak-anaknya. Kau tahu kan? Usaha ayahku untuk keluarga barunya, untuk adik-adik angkatku dan istrinya. Seakan aku hanya menumpang jika pulang nanti. Mungkin itu alasan aku takut mengambil hubungan, harus menemaninya belanja, membelikannya hadiah ulang tahun, membayari dia makan.." Lalu dia diam. Aku masih menatapnya.
"Aku merasa belum layak." Katanya mengakhiri.
"Jadi selama ini..?."
"Hari ini sama seperti hari-hari sebelumnya. Terakhir aku merayakan ulang tahun ketika umurku 8 tahun, bersama ibuku."
Katanya singkat. Aku masih menatapnya. Dia kini kembali ke posisi duduk semula lalu kembali menatap kedepan, menonton tv kereta api. Dengan ucapannya yang seakan menskak ku tadi, dan bagaimana dia menjelaskan mengapa dia begitu. Aku merasa sedikit guncangan di hati kecil ini, mengingat bagaimana perlakuan dia padaku sebagai teman. Mengingat wajahnya yang basah kuyup kehujanan dan menjemputku didepan mall sehabis aku menonton dengan kakak tingkat, usahanya yang lari dari ruang kuliah menuju lapangan kampus demi melihatku pertanding karate di perlombaan, dan yang senantiasa mengirimkan obat alergi jika aku tiba-tiba kambuh di kelas. Aku menoleh memandangnya lagi. Lagu yang menyala di telingaku seakan memberi makna.. "..people fall in love in mysterious ways.."
Aku berdiri dan membawa tas persegi disebelahku lalu berjalan menuju gerbong sebelah, masih memakai headsetku. Setelah sekiranya jauh dari dia. Aku membuka bungkus persegi dan membuka sebungkus puncake coklat dengan butiran keju meleleh diatasnya. Lalu menggoroh tas tersebut dan menemukan sepotong lilin merah yang sudah terpakai, kebetulan bekasku ketika aku berulang tahun. Aku terdiam, merasa bersalah hanya memberikan kejutan kecil untuknya. Lalu secara tiba-tiba tangan ini mengambil handphone disaku dan mulai sibuk melakukan sesuatu dengannya....
Malam itu pukul 9, setelah perberhentian terakhir di sebuah stasiun. Kini jendela hanya menontonkan gelapnya malam dan sunyinya gerbong karena banyak penumpang tertidur. Aku berjalan perlahan dari belakang hingga beberapa centi lagi dibelakang dia, salah satu headset kupasangkan ditelinga kanannya karena itu yang dapat kujangkau. Sebuah lagu menyala menyanyikan lagu selamat ulang tahun yang tak lain adalah suaraku yang kurekam ketika aku masih digerbong makan. Dia melihatku berjalan membawa pancake coklat dan sebatang lilin merah diatasnya. Dia berdiri dan memberiku waktu untuk tersenyum padanya. Wajahnya tak terbaca, entah dia terkejut atau mungkin tidak menyukainya. Aku berjalan menuju tempat dudukku, lalu menghadap padanya hingga lagu ulang tahun dalam headset kami terhenti. Dalam bisikan, aku menyuruhkan meniup lilin secepatnya karena ini didalam gerbong ber-AC. Dia tertawa lalu melalukannya dan seketika mencabut lilin itu dan menaruh disakunya, jaga-jaga agar asapnya tidak keluar terlalu banyak. Aku tertawa tanpa suara, begitupun dia.
Kue pancake mungil yang tadi utuh kini sudah setengah dimana kami memakannya bersama. Headset masih terpasang tapi tanpa suara. Lalu dia berbisik.
"Takut penumpang lain bangun?." Katanya pelan. Aku tertawa.
"Aku tidak berani mengajak mereka bekerja sama denganku untuk ramai-ramai nyanyi buat kamu." Kataku polos. Dia tertawa, lalu tangannya mengacak-acak rambutku. Sampai aku menyadari ada yang tertinggal saat itu. Aku duduk tegap dan membuka headphone lalu menyalakan history recorderku.
".. Selamat ulang tahun! Aku bingung harus melakukan apa untuk kejutan ini. Dan harus semeriah apa. Jadi.. mau dimaafkan kan jika hanya begini saja? haha.." Dalam sunyi kami mendengarkan, dia menyadari suaraku lalu menoleh melihatku dari sebelah. Dan tentu saja, aku tidak menoleh padanya saat itu.
".. aku tidak akan mengatakan hal ini untuk kedua kali melalui mulutku. Karena kamu tahu aku sangat pemalu. Jadi biarkan aku bicara melalui recorder ini agar aku tidak perlu malu untuk mengucapkannya lagi. Mungkin kau akan terus menutup hati itu untuk orang lain, tapi ketahuilah.. dengan menjelaskan dirimu yang seperti ini dengan wanita lain seperti kau bercerita padaku, mereka akan mengerti. Dan percaya, mereka akan menyayangimu dengan adanya dirimu yang seperti ini. Seperti aku yang senantiasa menjadi telingamu. Mungkin dengan terbukanya dirimu dengan keluargamu yang baru, kau akan menemukan momen yang sempat hilang selama 12 tahun ini. Seperti aku yang senantiasa kau tunjukkan dirimu yang sebenarnya, dan aku yang tidak pernah berusaha lari dari itu. Mungkin dengan hadirku disini, sebagai manusia yang paling banyak kurangnya dalam hidupmu, dan banyaknya kurangnya dirimu juga dalam hidupku. Seperti dalam tenangnya ulang tahunmu yang ke-20 ini, kita masih akan terus memberi percikan kejutan satu sama lain dan masih bisa saling tersenyum bersama, berdua. Jadi.. semoga kau terus bahagia. Dan tentu saja, salah satunya bahagia bersama sahabatmu yang paling pandai menyusahkanmu.. Salam."
Recorder selesai. Jantung ini masih bergedup kencang. Dari samping aku merasakan dia yang masih menoleh padaku. Aku memberanikan diri menoleh dan melihat kedua matanya. Aku memberi senyum padanya dimana dia juga memberi senyum hangat yang selalu terlihat di mataku. Setidaknya untuk saat ini, aku percaya. Seperti pada lirik lagu yang menemaniku menyiapkan kejutan kecil ini,
"..we found love right where we are.."Tepat malam itu. Aku merasakan momen yang seharusnya aku harapkan dari orang lain yang jauh disana, orang yang amat kusayangi daridulu dengan syarat. Tapi disini, malam ini. Aku menyadari orang ini yang selama ini benar ada didepan mata, dan tidak kusadari-- benar-benar tanpa syarat kusayangi..
Jumat, 27 Februari 2015
"Semua seakan tertumpah dimangkuk kecil ini. Kuah sup putih telur didalamnya yang tinggal setengah lagi ini datar menampilkan bayangan wajahku yang samar. Kulirik kesebalh kiri, jam tangan hitam kusangku menunjukkan pukul setengah delapan dengan jarum detik yang bergerak konstan. Aku sekejap menyenden kembali di meja, menutup mata menahan amarah kecilku. Lalu membuka mataku dengan posisi kepala menatap atap ruangan. Kini restoran mungil kesayangan kami ini sudah lumayan penuh pengunjung. Dari pria-pria kantoran dengan tas pundak coklat seraya membaca koran dan meneguk kopi serta roti bakar yang belum tersentuh untuk dimakan, ocehan wanita yang menyuruh anaknya untuk sarapan dan beberapa pengunjung sepertiku.. sedang menunggu seseorang.
Aku meluruskan gaya dudukku dan meneguk susu putihku lalu memandang kursi didepanku yang kosong dengan sup putih telur yang masih penuh, roti dengan selai kacang, serta air putih yang belum tersentuh. Aku menelan ludah, menahan air mata yang hampir menggenag dimata. Rupanya hari ini tidak perlu diramalkan kembali, aku tahu dia tidak akan datang, seperti biasanya. Aku berdiri beranjak memakai mantel coklat dan memeluk tas mungilku lalu meninggalkan uang disebelah piringku. Lalu pergi. Jalanku cepat, tapi aku bisa merasakan langkah berat diriku sendiri. Berusaha menahan air mata yang, lucunya, terlihat memalukan jika harus menangis. Mengatur nafas lalu berjalan normal."
Diwaktu yang sama, seorang pria menatap jalan raya, melihat langkah wanita yang beberapa saat lalu pergi dengan cepat dan meninggalkan meja makannya dengan makanan yang masih belum tersentuh. Dia terdiam lalu lanjut menggambar dengan sketsanya. Bukan hal yang langka, tapi hari ini bukan hari wanita itu datang untuk pertama kalinya, dalam benaknya..
"Hari itu, setelah dua hari kunjunganku yang terkahir di cafe mungil itu. Aku dengan langkah berani berjalan masuk kedalamnya. Kali ini aku memesan dua air putih, aku merasa tidak perlu makan hari ini. Durasi perkiraan waktu di kepalaku seakan sudah menjadwal bahwa hari ini hanya sebentar, dan sepertinya, untuk yang terakhir aku akan berkunjung kemari. Aku duduk ditempat yang sama, tidak melepas mantelku dan menaruh tas mungilku dipaha. Aku memandang jalanan berharap melihatnya lewat dan melihatku. Lalu mata ini bergerak beberapa centi dari kaca cafe dan melihat seorang pria duduk tenang sedang sibuk dengan kertasnya. Wajahnya terkena pantulan sinar pagi, aku hanya melirik sebentar dan seketika dia menoleh lalu mata kami bertemu. Aku segera menunduk bahkan sebelum aku berkedip. Aku terus menunduk sampai aku menyadari seseorang duduk didepanku. Aku terus menunduk, dan entah mengapa semua terasa konyol. Hari demi hari menunggu sesuatu yang bisa dengan mudahnya datang kapan saja ia mau, diri terasa mengoreksi keganjilan yang tidak seharusnya ada. Lalu aku menaikkan wajahku dan menatap matanya. Wajah yang sama seperti yang aku lihat setahun lalu, pertemuan janji kami disini, tepat ditempat ini dengan posisi duduk yang sama. Aku melihat wajahnya, turun ke pundak, memperhatikan garis lurus pundaknya dengan mantel biru dongkernya, melihat sedikit debu diatasnya dan tersenyum sedikit, melihat dua kancing pertama yang tertutup di mantelnya sedangkan sisanya sengaja tidak ditutup, benar-benar khas dia yang kuhapal betul bahkan sampai saat ini. Mataku terus meraba dan tanpa disadari mataku kabur dengan air mata yang tidak turun sebagai salam pertemuan sejak satu tahun kami berjanji untuk bertemu kembali. Dan pandangan mata ini terhenti, dibalik jarinya, jari manisnya, melengkung sempurna cincin perak dengan ukiran sederhana, aku melengkungkan alisku dan melihat matanya.
Dia memandangku dengan orehan wajah yang dalam. Aku tersenyum kecil, menahan air mata yang siap keluar. Dengan mengatur posisi duduk dan menampilkan wajah sebaik mungkin.
"Selamat ya." Kataku sembari tersenyum. Dia hanya mengangguk tersenyum. Aku tertawa dan meneguk air putihku kembali.
"Aku minta maaf, aku lupa harus kemari. Kau tahu? Banyak yang harus dilakukan." Katanya ringan. Aku tersenyum.
"Tentu saja, aku tahu. Sibuk sekali pasti.."
Kami berbincang renyah. Seakan teman lama yang bertemu kembali. Dia bercerita perkawinannya, dan bagaimana dia tidak mengundangku karena terlalu jauh dari rumahku dan tahu bahwa aku tidak mungkin diperbolehkan oleh orang tua angkatku bepergian sejauh itu, bagaimana rencana kepindahan mereka, dan rasa tidak percayanya dia bahwa akhirnya akan menikah dengan wanita itu.
"..maksudku. Kau tahu kan bahwa semua memang dari awal adalah akting? Kau sahabatku. Aku tidak tahu harus bercerita kepada siapa lagi... tapi kau tahu kan? Benar-benar tidak disangka akan begini. Aku yang denganmu hanya sebatas pengalih perhatian saja. Dan dia yang rupanya memperhatikan aku seperti aku juga memperhatikan dia.. ajaib sekali bukan? Bukannya dunia ini sukar ditebak? " Katanya sembari memasang wajah tidak percaya sekaligus bahagia. Aku tertawa renyah padanya. Setuju."Dia benar-benar cemburu padamu. Kau tahu? Tidak ada yang bisa dekat sebagai teman sebaik kau padaku. Dia menitip salam padamu, asal kau tahu.." Katanya lagi. Aku tertawa lebar."Kirimkan salamku untuknya. Aku akan berkunjung kalau sempat." Kataku meyakinkan."Harus. Beritahu aku, aku akan menjemputmu nanti." Katanya. Dia berdiri dari kursinya dan meluruskan lipatan mantelnya. Aku juga ikut berdiri, lalu dia ke kasir dan membayar pesanan kami. Aku mengikutinya sampai keluar hingga di depan cafe. Dia berbalik dari melihatku, memandangku lama sekali dengan mata kecoklatan terlihat jelas terpantul matahari pagi. Seketika dia menarik tubuhku dan memelukku, lama. Aku menepuk punggungnya dan terus berdoa didalam hati untuk tidak menangis, untuk terus tidak terlalu mengambil momen ini. Dalam pelukan kami, dia bertanya."Kau tidak benar-benar menunggu di cafe ini seperti janji hari itu kan?." katanya lembut. Aku terdiam, air mata ini tidak menepati janjinya, dia terus turun selama tubuh ini masih didalam pelukannya. Aku masih tidak menjawab. Dia terus memelukku, entah bagaimana dunia ini terasa sangat lucu menunjukkan jalan kecilnya bagiku. Dalam hati aku menyimpulkan bahwa pelukan ini memberikanku waktu untuk menjawab, tanpa harus melihat matanya, tanpa harus menangis konyol didepannya."Tentu saja tidak. Hari ini tepat kita terakhir bertemu, setahun lalu. Firasatku bilang kau akan datang. Dan memang benar.." Kataku pelan. Dia mempererat pelukannya, dan berbisik ditelingaku."Maafkan aku." Aku sekali lagi menitikkan air mata kecil ini. Beban hati terasa tumpah di pundak ini, pundak yang senantiasa menemani sebagai sosok laki-laki nomor satu didunia bagiku, aku tidak pernah mengenal ayahku semenjak kejadian yang merubah segalanya dalam hidupku, tapi sosoknya bagai ayah bagiku, sosok yang kucintai, kusayangi, kuhormati. Sahabat nomor satu bagiku, dan juga.."Terima kasih sudah mau datang." Kataku pelan. Dia melepas pelukanku dan tersenyum melihatku. Tangis ini terhenti tepat dia melihatku, terkontrol mengingat sudah sesering apa aku menunggu ditempat ini dan terus menangis setelahnya. Dia melambai tanganku dan berbalik pergi.
Aku masih terus melihat punggungnya yang berjalan menjauh. Dan tanpa harus kuawali, air mata ini turun begitu saja. Aku benci harus mengakuinya. Tapi dalam diam, dalam segala momen dimana kami berdua menghabiskan waktu bersama, aku benar-benar menginginkannya. Dan secara nyata, rupanya dengan keinginan itu, akulah yang memang harus melepasnya.."
Pria itu memperhatikan dalam diam. Wanita itu tetap diam diluar, memperhatikan sesuatu yang sudah jauh berjalan. Dari samping, rautan wajah itu nampak hilang. Bukan wajah yang dibaca oleh pria itu, tapi momen dimana hal sesederhana seperti perpisahan tidak akan membuat dunia berhenti menunjukkan takdir lainnya. Ketika sebentuk kasih yang harus rela terlepaskan demi seutuhnya kebahagiaan hingga menimbulkan kehilangan yang amat dalam. Dan dalam diam, pria itu memahami. Bahwa tidak selamanya apapun yang kau simpan akan selamanya baik-baik saja. Ada kalanya suatu ketika, .. kau harus bicara. Setidaknya lebih dahulu jujur pada diri sendiri. Maka dengan ini kau akan paham bagaimana dunia menunjukkan jalannya padamu.
Senin, 07 Juli 2014
Ranah senyum itu, aku tidak pernah melihatnya hingga semalu begini. Jarak menentu yang memisahkan jiwa ini bagai riak sungai satu dengan lainnya, berjauhan tapi seirama. Sesekali mata ini bertemu dan dalam sekejab itu pula harus melempar pandang kembali. Diskusi renyah ini terasa hangat dan penuh, ada tawa, sekelebat topik yang dibicarakan, adu mulut yang berbobot, sunyi senyap dalam diam karena memikirkan kata-kata magis apa lagi yang akan mengejutkan. Malam itu terasa lengkap, setidaknya dengan diam aku mengakari kata-kata yang dalam sekejab dapat merubah suasana ini menjadi sunyi bak pemakaman.
Aku belum pernah, sekalipun lupa bagaimana jiwa ini pernah berteduh di sebilah hati dan kasih sayang yang pernah ada. Bagaimana bentuk dan sebungkus bahagia itu tersimpan rapi dan selalu bersih dari debu kekosongan. Aku tidak pernah sendiri, bayang-bayang yang mengikuti bak dewa yang selalu ada dan merengkuh jiwa, dan tanpa disadari dibalik gelap itu menyembunyikan keputusan yang tidak selamanya ada. Karena terkadang manusia memilih keputusan yang baik bagi dirinya tanpa tahu apa yang akan terjadi kelak.
Tapi keadaan merubah, kedua kaki ini melangkah menuju jalan yang tidak pernah terpikirkan. Dimana orang-orang baru, suasana baru, keputusan baru, diri yang baru. Dalam sebingkai hal-hal baru itu aku menemukan setitik hitam, membentuk bayangan baru, seseorang yang baru. Seseorang yang datang dalam diam, dalam tenangnya, dalam hal-hal yang luar biasa sepele dan tidak diduga. Walau hanya setitik hitam, aku belum pernah sekalipun bertemu manusia hitam itu. Benar-benar hitam, sampai-sampai aku hanya dapat membayangkannya dalam gelap. Waktu yang tertumpah hanya singkat, sesingkat matahari tenggelam diufuk timur sana. Sungguh rana yang indah, pemandangan bak surgawi dunia, tapi hanya sedetik saja lalu hilang ditelan gelapnya malam.
Sungguh sederhana, amat sederhana. Bagaimana setitik hitam itu terbungkus dengan indahnya dalam ruang jiwa. Manusia yang tidak pernah kuduga tiba dalam diam, dalam kesederhanaannya, dalam renyahnya tawa dan canda yang diciptakannya, aku benar-benar merasakan sesuatu yang sederhana dalam hal kasih sayang. Sekelebat cara untuk lari dan sembunyi, hingga keadaan yang tidak mempertemukan, akan tetapi dalam keadaann itulah aku percaya, bahwa hati manusia tidak pantas dikurung dalam kesengsaraan menahan kata. Karena suatu saat kita hanya bisa berucap sebelum waktu tidak mengembalikan kesempatan itu kembali. Biarkan pena menari diatas kertas putih, biarkan dia berteriak, biarkan dia menangis, biarkan dia jatuh cinta, karena hati tahu kemana harus menumpahkan seluruh luru lara-nya.
Suatu hari disore yang gelap, awan abu-abu hampir menutupi langit yang terang, suara guntur nun jauh disana mengiringi langkah berat kami. Aku berjalan pelan dibelakang, menatap awan gelap mulai menutupi hampir setiap inci pandanganku di angkasa, mengayomi desir angin dan dinginnya sore itu. Dia hanya berjalan ringan didepan, wajahnya tidak menoleh sekalipun dan hanya menatap kedepan. Aku mengamati dalam diam, sesekali berpikir, 'apa yang ada dipikiran manusia ini?'. Sungguh, itu adalah pertanyaan yang terlintas setiap detik sebelum bibir ini mencoba membuka pembicaraan. Mencoba sok seru walau tahu akan gagal nantinya. Tiba-tiba dia bicara tanpa menolehkan wajahnya, membuka pembicaraan setelah sekian lamanya kami terdiam dalam keadaan galau ini.
"Mau hujan ya?." Katanya tenang sembari menatap langit. Aku mengangkat alis dan menatap langit yang sedang dipandanginya.
"Hmm.." Kataku singkat, masih memandangi langit diatas sana. Wajahnya seketika menoleh sebentar, menatap wajahku dengan datar penuh arti, dan tampa disuruh pun aku tersenyum memasang ekspresi bercanda.
"Iya, mau hujan." Kataku meralat kembali. Dia kembali menatap jalan didepan dan mulai berjalan cepat. Aku tersenyum kecil. Dalam hati membisikkan betapa lucunya sore ini, betapa konyolnya diriku membaca semua ini, betapa polosnya langit diatas kami yang menemani kami sejak tadi, dengan waktu yang kami lewati bersama ini.
Kembali ke waktu saat ini. Dimana kami duduk tidak begitu berjauhan, mata kami yang sesekali bertemu dan obrolan hangat yang kami lalui. Saat matanya menceritakan sesuatu dengan tatapan yang optimistik, dengan gerak tangannya yang tegak menjelaskan, dengan suaranya yang renyah seraya berkomat-kamit lancar dengan opini di kepalanya yang genius. Aku tahu, aku benar-benar tahu. Akar pembicaraan yang kurangkai itu justru akan menghancurkanku sendiri, akan membuatku jatuh dan terasa jauh. Sungguh aku benci harus berucap selamat tinggal, membayangkan menatap matanya walau terkadang hati menjawab tidak akan terbaca apapun dari mata itu kembali. Akulah yang selama ini tersiksa, dan akulah yang selama ini menikmati, akulah yang lari, dan akulah yang kembali pula, dan akulah yang selalu melihat tanpa harus terlihati.
Aku menolehkan wajahku dari pembicaraan, menatap kembali jalanan diluar tempat kami sedang berkumpul. Terdiam sejenak dan mencoba melampaui pikiran, aku benar-benar sengsara. Teringat setelah pertemuan di sore yang hujan itu, aku menembus titik-titik hujan seraya memeluk tas gendongku. Menatap langit sepanjang perjalanan. Wajah dan badan ini basah kuyup. Aku berbisik dalam hati. Aku telah mengagumi seseorang dengan kesederhaannya, dengan kegeniusannya, dengan kelakuannya, dengan apapun mengenai dia yang terlintas dalam setiap gerak-geriknya. Dan dalam setiap tabu yang kudapat, aku telah menemukan dan mengenal titik hitam itu, aku jauh mengenalnya sekarang, aku ingin menghiasi titik hitam itu di kertas putih yang kugenggam. Tapi rana hitam itu pada akhirnya hanya bayangan, bayangan yang tidak akan pernah bisa kuraih, hanya bisa kupandang. Tidak bisa kunikmati hanya bisa dibayangi. Tidak bisa dicintai hanya bisa mencintai.
Kamis, 12 Juni 2014
Aku mencabut pena di sakuku, menorehkan ujungnya pada kertas putih. Sepersekian detiknya diam membeku tanpa angan dan bayangan akan menuliskan entah apa. Matahari masih muncul menghiasi langit dipenutup hari. Deru kendaraan dipadukan klakson, suara bising dari mulut-mulut yang bicara, langkah kaki yang berjalan seakan meninggalkan waktu yang tersisa, dan langit bagai jam transparan yang jarumnya terus bergerak seirama dengan setiap kedipan mata. Ini bukan khayal, karena aku pernah mengalaminya. Selama sepersekian detik itu aku merasa hampa, bukan hanya merasa kosong atau hilang, tapi hampir merasa tertinggal.
Bagaimana bisa aku melupakan irama jantung ini berdegub kencang, andrenalin bergerak bak tangki air memanas menunggu hasil yang selama ini hanya ada dalam impian. Hanya sepersekian persen manusia didunia menginginkan masa depan yang tidak baik, sisanya tentu mereka menginginkan hal yang jauh lebih baik. Berderet-deret manusia dalam imajinasi seorang anak berumur 8 tahun ketika ditanya ingin menjadi apa. Dokter, insinyur, penyiar televisi, artis, polisi, bos, penasehat, psikolog, direktur, ilustrator, arsitek, disainer, hakim, dll. Wajah-wajah impian mereka ketika dewasa nanti.
Tapi aku masih ingat masa ketika kaki ini berlari-lari kecil dan mempersiapkan kalimat yang seandainya akan terucap dikala mereka bertanya padaku. Wajahku binar, berharap ini adalah langkah awal yang baik. Diwaktu lain, seorang pernah memberi nasihat padaku. "Dunia ini terlalu rumit bahkan pilihan pun tidak ada akhirnya, tapi ada satu yang berakhir, yaitu ketika kau menyerah, ya-- benar-benar menyerah sampai tidak tahu harus bagaimana lagi."
Tanganku menyentuh daun pintu perak itu, jantungku masih berpicu dan aku menarik nafas panjang seraya membukanya. Seorang wanita perawakan keibuan duduk tenang, wajahnya berpacu pada kertas dimana ia menuliskan sesuatu disana. Dia mendongak dan menyadari keberadaanku. Dia tersenyum dan membuka kaca mata perseginya, lalu mempersilahkanku duduk. Aku berjalan tenang dan duduk dengan pelan. Mulutnya bergerak dan menafsirkan kalimat-kalimat yang buatku terdiam, adrenalin yang tadinya membuatku beku kini mencair, nafasku mulai teratur lagi, tapi mata ini secara tidak disuruh memberikan pandangan kecewa. Aku gagal.
Bukan pertama kali aku merasa begini, hari itu ketika aku merasa satu langkah lebih dekat lagi, aku justru mundur beberapa langkah dibelakang. Waktu mundur kembali ketika malam yang dingin ditemani hujan rintik-rintik dikamarku yang sunyi, aku bercerita panjang mengenai apa yang kulalui, apa yang sudah kupilih. Dan dia diam, aku menunggu respon ataupun kata yang muncur di layar leptop, dan sebuat kalimat muncul "lucu sekali, bahkan dirimu sendiri tidak tahu siapa dirimu." Sesuatu membalikkan halaman yang kini tertorehkan pena dan pensil yang tercoret sana-sini.
Aku ingin memperbaiki hari itu. Bukan untuk siapapun, tapi untukku. Aku rindu harapan dan mimpi yang kata 'orang-orang besar' adalah sesuatu yang tidak akan mati. Kisah dimana editor menolakku untuk yang pertama kali dan ucapan yang kini tergiang dari sahabatku paling nomor satu didunia dimana ia berkata aku terlalu jauh dari jalan yang seharusnya.
Satu lagi, untuk semua anak yang berusia 8 tahun dengan cita-citanya, dan untuk anak yang 11 tahun lalu pernah ditanyai gurunya ingin menjadi apa, dan dia menjawab "Saya mau jadi penulis, saya tidak mau terkenal. Saya hanya ingin menjadi penulis, agar buku saya bisa dikenang."
Dan pena itu kini menari-nari di kertas, menorehkan angan dan kisah masa lalu yang hampir hilang dimakan debu-- hilang direbut kondisi dan tuntuan tak pasti. Tapi dibalik itu, aku masih belum menyerah, bahkan diantara pilihan yang berderet rapi dihadapan.
Sore itu, diantara semua kondisi yang ada ini, aku masih disini. Setidak begitu.
Bagaimana bisa aku melupakan irama jantung ini berdegub kencang, andrenalin bergerak bak tangki air memanas menunggu hasil yang selama ini hanya ada dalam impian. Hanya sepersekian persen manusia didunia menginginkan masa depan yang tidak baik, sisanya tentu mereka menginginkan hal yang jauh lebih baik. Berderet-deret manusia dalam imajinasi seorang anak berumur 8 tahun ketika ditanya ingin menjadi apa. Dokter, insinyur, penyiar televisi, artis, polisi, bos, penasehat, psikolog, direktur, ilustrator, arsitek, disainer, hakim, dll. Wajah-wajah impian mereka ketika dewasa nanti.
Tapi aku masih ingat masa ketika kaki ini berlari-lari kecil dan mempersiapkan kalimat yang seandainya akan terucap dikala mereka bertanya padaku. Wajahku binar, berharap ini adalah langkah awal yang baik. Diwaktu lain, seorang pernah memberi nasihat padaku. "Dunia ini terlalu rumit bahkan pilihan pun tidak ada akhirnya, tapi ada satu yang berakhir, yaitu ketika kau menyerah, ya-- benar-benar menyerah sampai tidak tahu harus bagaimana lagi."
Tanganku menyentuh daun pintu perak itu, jantungku masih berpicu dan aku menarik nafas panjang seraya membukanya. Seorang wanita perawakan keibuan duduk tenang, wajahnya berpacu pada kertas dimana ia menuliskan sesuatu disana. Dia mendongak dan menyadari keberadaanku. Dia tersenyum dan membuka kaca mata perseginya, lalu mempersilahkanku duduk. Aku berjalan tenang dan duduk dengan pelan. Mulutnya bergerak dan menafsirkan kalimat-kalimat yang buatku terdiam, adrenalin yang tadinya membuatku beku kini mencair, nafasku mulai teratur lagi, tapi mata ini secara tidak disuruh memberikan pandangan kecewa. Aku gagal.
Bukan pertama kali aku merasa begini, hari itu ketika aku merasa satu langkah lebih dekat lagi, aku justru mundur beberapa langkah dibelakang. Waktu mundur kembali ketika malam yang dingin ditemani hujan rintik-rintik dikamarku yang sunyi, aku bercerita panjang mengenai apa yang kulalui, apa yang sudah kupilih. Dan dia diam, aku menunggu respon ataupun kata yang muncur di layar leptop, dan sebuat kalimat muncul "lucu sekali, bahkan dirimu sendiri tidak tahu siapa dirimu." Sesuatu membalikkan halaman yang kini tertorehkan pena dan pensil yang tercoret sana-sini.
Aku ingin memperbaiki hari itu. Bukan untuk siapapun, tapi untukku. Aku rindu harapan dan mimpi yang kata 'orang-orang besar' adalah sesuatu yang tidak akan mati. Kisah dimana editor menolakku untuk yang pertama kali dan ucapan yang kini tergiang dari sahabatku paling nomor satu didunia dimana ia berkata aku terlalu jauh dari jalan yang seharusnya.
Satu lagi, untuk semua anak yang berusia 8 tahun dengan cita-citanya, dan untuk anak yang 11 tahun lalu pernah ditanyai gurunya ingin menjadi apa, dan dia menjawab "Saya mau jadi penulis, saya tidak mau terkenal. Saya hanya ingin menjadi penulis, agar buku saya bisa dikenang."
Dan pena itu kini menari-nari di kertas, menorehkan angan dan kisah masa lalu yang hampir hilang dimakan debu-- hilang direbut kondisi dan tuntuan tak pasti. Tapi dibalik itu, aku masih belum menyerah, bahkan diantara pilihan yang berderet rapi dihadapan.
Sore itu, diantara semua kondisi yang ada ini, aku masih disini. Setidak begitu.
Jumat, 01 November 2013
Hi ladys, I’ve
got something to talk about. Can you just sit for a while than think about how
unique we are?. Lets open this forum, first of all, we are all beautiful. With
all the characteristic, personality, our mindset, our attitude that can make
people know that we are different from each other. Secondly, we are all
clever/genius/smart in every single way we did. We can be a mother so it means
we have a responsible to have a child and be a mother for our children(;our
next generation that maybe can change the world’s face), we can be a scientist,
we can around the world, we can take a place in Averest Mountain or we can
diving deep the ocean just only seeing Titanic, we can do something that man
can do right? Is that special? Yes we
are. And the last, but not least, we
are all stronger. The shoulder and heart can make you feel confidence to face
the world. Maybe you feel pain last night, or feel like nothing because a man
who broke your heart, but tomorrow comes and you feel better than before. Just
imagine this man wrote about us:
“… they smile, just
the way they talk and laugh, you’ll see how precious something that can make
them like that. Over and over again, when something hurt and pain make them
cried, make them strong, make them still can smile even when randomly feeling,
what a incredible passion they had. Lady’s, you should be proud.”
Well, its funny when you loose someone who can make you
fall in love, than at least he make you feel nothing. Something like, ‘whats the point of this? just like a wind,
we don’t know, we don’t see it, but we can feel it. Well, that’s love, eh?’.
But seriously, for what? Can you
remembered the feeling when those eyes, those smile, those voice can make you
really nervous even only just seeing at him?. Funny. But boys only just be a
boys, or they decided to change into a man. You know that the transformation
like that need more time than we all know.
“..
I wish I could be that woman. With all the responsible on her shoulder and the
person who always standing besides her no matter bad things happen. Is that
real that a man like that only exist in fairytales? My father just like a king
to me, then who is my prince?.”
There are a thousand or billion man
on there, we can just find one of them just like “CLICK!” or just one second(;for an example), what a ceep magic. If
that happen so quickly, then there will be none story. Personally, my opinion
about this is “I always believe that
there will be a man on there, who will pick me up someday, and when he came, I
imagine that his smile and his eyes so warm and in that moment I feel ‘he’s the
one’ who can be my man like forever..” And trust me, that’s not only in
fairytales.
“…I
miss my old storys, I miss my bestfriend who always caloring my day. I missed
our laugh, our tears, our talks, our time that we spending together. Women
ussualy make the quality time with three list (;bestfriends, gossips, and cool
ootd). It can make higher mood for them. If only there a time machine in this
world, maybe the first wish I want to fixed up is wasting my time with my
parents. I want to learn how to be a great mother and wonderful wife in the
future. Because, we never know when we should ready to be an adult person
right?..”
The first time when you thought
you’re not an children anymore is when you realized that things in the world
more complicated than before. When you mindset changed and became more adult
and trying to complish the problem in your life. The first time in your mind is
“what happen for me now will became
easier than what happen in the future..” . To many problem solves by many
girls in this worlds, seems like family, friendship, school/collage, love, and
ofcourse sometimes problem from themselves. We all need more ‘ears’, ‘listener’ that can make us
believe that we all never be alone.
“..woman
with dresses, jewels, and higheals looks more elegan, expensive, high-class and
gorgeous than a lady with t-shirt, blue jeans, and converse on her shoes.”
That opinion was wrong. We all
beautiful in our way. I can write a story, my bestfriend beautiful as a
scientist, singer, accounting, doctor, etc. We all born in different ways,
different regions, different family that give first education for us. Honestly,
first time I felt to shy as ‘who I am’. I’m not pretty, I cant cook
profesionaly, sometimes I’m so awkward/nerd/weird/geek/different than the
other, I am not clever enough and I feel I had nothing special in my body. But
the more you think you are, the bad thing will show them up in your big-mind.
Just enjoy your life cause nobody can be like you and for sure you can be
somebody. Just take a breath, close you eyes for a while, feel the air,
remember all the memories can make you feel better, like you parents – you
family and all the loveable you get, your friend who always give their hand in
your shoulder, and ofcourse remember how special who are for your self that can
stand in that moment and feel blessed.
“..
I can see it. This moment when you know you’re not a sad story. You are alive
and you stand up and see the lights on the buildings and everything that makes
you wonder. And you’re listening to that song on that drive with the people you
love most in this world. And in this moment, I swear, we are Infinite..”
–Stephen Chbosky
Every
person has their own quotes, and that’s my best-quotes-ever. That’s make me
feel bless every single day in my life.
And I’m sure we all should feel that way.
Rabu, 24 Juli 2013
1. Picasso :
"39?."
"Hmmm salah." Kataku mengelus dagu. Dia menutup kedua matanya sembari berpikir dibalik pikirannya. Aku tersenyum kecil.
"42?." Aku menggeleng, nyaris.
"Bahkan tidak mendekati benar sekalipun." Kataku. Dia diam.
"Jangan mencampur adukkan tebakan dengan hal sains. Itu tidak masuk akal." Katanya datar.
"Kalau begitu jangan berpikir jawabannya akan mengarah pada dianalisis lukisan Picasso tahun 1800-an." Kataku mencoba mencibir. Dia membuka matanya lalu menatapku. Kedua telapak tangannya dilipat diatas punggung kursi dan dia menyendenkan dagunya dengan lembut. Posisi duduk favoritnya; dia duduk terbalik di kursi berpunggung dan kebiasaan menyendenkan kepalanya diujung.
"Apa yang kau tahu tentang Picasso?." Katanya tertarik. Aku melipat kedua tanganku di kursi, menyendenkan tubuhku lalu berpikir.
Apa yang aku tahu tentang seni? Bahkan tidak ada satu manusiapun yang tidak tahu apa itu seni. Kita berenang dalam air ketuban ibupun dapat digambarnya melalui seni, bahkan sebelum alat cangging dapat memotretnya, seniman Italy, Leonardo DaVinci sudah dapat menggambarnyakannya.
"Aku rasa, dia terlalu berpikir pada satu ruang, satu objek tipikal dari khasnya, kubisme. Dimensinya sendiri. Dia memisahkan dimensinya dengan unsur detailistic. Tapi aku suka, dia orangnya romantis." Kataku. Dia masih memandangku bahkan ketika mataku melihat lantai untuk berpikir tentang Picasso.
"Darimana kau tahu dia romantis?." Katanya lagi, kali ini kerut di keningnya terlihat, dia penasaran. Aku tidak mengerti apa yang menjadi topik kali ini, tapi dia begitu aneh saat itu. Entah matanya, entah pertanyaannya, entah senyumnya.
"Hmm.. entahlah. Menurutku sesuatu yang mistik, unik, dan punya ruang amatiran sendiri dalam konsep karyanya itu romantis." Kataku, bahkan kata-kata itu keluar begitu saja dan dia masih melihatku dengan tenang. Ketika mata kami bertemu, kami berdiam cukup lama, menunggu siapa yang akan bicara selanjutnya. Bukan waktu yang lama jika di nominalkan, tapi bagiku ketika mata itu menangkapku, aku bahkan merasa menemukan sesuatu yang entah kenapa, selama ini aku cari.
"Aku suka sesuatu yang beda." Kataku menambahkan sembari memecah keheningan melankolis ini. Dia tersenyum, dan ekspresi itu yang bahkan hingga 6 tahun ini tidak pernah kusadari, begitu dalam dan berarti.
2. 13 oct 2016 :
Kami berteduh di payung yang sama. Setelah menunggu hampir satu setengah jam dibawah papan jalan diujung halte, dia datang membawa payung biru gelapnya. Terpoyoh-poyoh diantara badai hujan sore itu.
"Maaf ya.." Kataku seraya mengusap-usap telapak tanganku menahan dinginnya udara.
"10 Menit lagi kita jalan, kita terjang hujan. Berani kan?." Katanya bicara padaku. Entah dia mendengarkanku atau tidak. Aku melihat dari samping, rambutnya basah dan matanya tidak fokus melihat jalanan dan mobil lewat didepan kami.
"Aku minta maaf sudah merepotkan, Denger kan?." Kataku lagi, suaraku kali ini aku kencangkan sehingga suara deru hujan tidak akan mengalihkan pendengarannya lagi. Dia menoleh padaku dan melihatku sebentar.
"Tanggal berapa sekarang?." Tanya dia dengan raut wajah polos. Aku tidak percaya, anak ini baik-baik saja kan? Aku mengecek jam tanganku lalu menjawab pertanyaannya.
"13 Oktober. Kenapa?." Dia tampak berpikir. Lalu bicara padaku dengan wajah ceria.
"13 Oktober 2016 nanti kau ingin apa? Impianmu? Cita-citamu?." Katanya tertarik. Aku tidak begitu paham kemana pikiran anak ini, tapi aku tahu satu hal, dia berusaha membuat waktu kami berdiri disini tidak membosankan. Maka akupun memasang wajah bersemangat agar dia tidak kecewa.
"Hmmm.. aku pingin ke Inggris, kuliah disana dan jadi penulis. Kenapa harus 2016?." Kataku bertanya balik.
"Karena 3 tahun dari sekarang pikiran kita mulai matang, dan apapun bisa terjadi. Makanya aku tanya sekarang biar nanti tidak tersesat." Katanya. Aku tertawa lepas, dan dia tertawa kecil.
"Jangan konyol. Bagaimana denganmu?." Kataku lebih tertarik lagi. Dia diam menatap jalan, menerawang entah apa.
"Aku ingin menyusulmu di Inggris, mendaftar di universitas yang sama denganmu, lalu membeli novel terbitanmu." Katanya sembari tersenyum dan masih menerawang dalam didepannya. Aku terdiam lama. Menatapnya tidak percaya lalu tersenyum tenang dan menatap jalan didepanku. Jalan yang juga dipandang dia sejak tadi.
Kurasa percakapan dan kebisuan ini berlangsung lebih dari 10 menit. Lebih dari yang dia aba-abakan tadi. Dan kami menikmati suasana ini dalam diam, menerawang entah apa didepan kami. Selama 6 tahun ini, belum pernah kudengar jawabannya yang seperti itu. Aku tidak berani membantah, tidak berani berargumen, walau aku tahu kepala ini menyimpan pertanya "kenapa?" dan "bagaimana bisa?" tapi semua kukubur dalam-dalam dan kupasangkan nisan diatasnya bertuliskan "semoga saja."
3. Under the Sea :
Lukisan itu biru, setiap garis dari satu bidang ke bidang yang lain terlihat halus dan perpaduan warna yang lembut. Gelembung air nampak bagai gambaran nyata dan dimensi pusaran lautnya terlihat bagai lubang hitam samudra. Aku menyentuh lukisan itu ketika menyadari seseorang berdiri disampingku.
"Under the Sea." Kata pak tua disebelahku. Dan aku berani bertaruh dia adalah pelukisnya.
"Itu nama lukisan ini." Katanya lagi seraya tersenyum. Dan aku membalas senyumannya dengan kagum. Aku suka laut, rahasia lain yang diberikan Tuhan, tempat yang bahkan belum satu manusiapun dapat sampai didasarnya, gudang pengetahuan dan keindahan dibawah bumi yang luar biasa.
"Saya suka pak. Belum ada memesan lukisan ini?." Kataku bertanya. Dia mencibir pelan.
"Belum nak, orang-orang lebih suka melihat keatas." Katanya singkat. Aku berpikir lalu melihat semua lukisan di galeri kecil ini. Hampir seluruhnya bertemakan manusia, gunung, abstrak, kota, tumbuhan, dan hanya lukisan ini yang bertemakan laut.
"Saya rasa orang-orang belum melihat karya seni bapak yang ini." Ucapku menebak. Dia tertawa ringan lalu menepuk pundakku.
"Mungkin nak. Aku disini hanya berkarya, menumpahkan semua emosi orang tua yang seharusnya sekarang berada di rumah dan ditemani oleh cucu-cucuku. Terkadang apa yang baik menurut kita belum tentu baik di mata orang lain. Dan percayalah nak, lukisan ini adalah favoritku." Katanya dengan tersenyum. Aku setuju, tentu saja. Jika aku aku punya uang aku berani membeli mahal lukisan ini, memasangnya di kamarku dan melihatnya setiap hari.
"Andai saya bisa membelinya pak." Ujarku pelan. Pak tua itu melihatku terkejut. Lalu dia menyentuh kedua pundakku, seperti dalam adegan film dimana orang tua memberi nasehat pada anaknya.
"Tidak perlu nak. Kau hanya perlu seperti lukisan ini. Jadilah yang berbeda tapi yang paling indah, terutama paling indah dimata seseorang yang bisa melihatmu lebih dalam lagi." Kata pak tua itu.
Dan keesokan harinya ketika aku berniat melihat lukisan itu lagi. Galeri itu tidak ada, beberapa orang berkata galeri itu pindah, ada juga yang bilang sudah tidak berkarya lagi. Sesungguhnya aku ingin bertemu bapak tua itu, mengatakan terima kasih dan melihat lukisan itu sebelum aku pindah meninggalkan kota ini.
Aku berumur 12 tahun saat itu, dan sejak saat itu pula aku bercita-cita ingin menjadi seniman. Seperti judul lukisan itu "Under the Sea" dan seperti kata bapak pelukis itu. Jadilah yang berbeda dan yang paling indah, terutama yang paling indah dimatanya. Dimatanya yang entah kenapa selalu buatku merasa tenang, seorang sahabat yang suaranya begitu hangat, pecinta sains nomor satu dimataku, baginya ilmu tidak akan ada batasnya, dan sains serta seni tidak akan bisa bersatu. Tapi bagiku, dialah yang melihatku dengan indah. Dialah pengamat "Under the Sea"-ku.
Langganan:
Postingan (Atom)





