Ara Kisah Satu.

Rabu, 16 Maret 2011

Siang itu ketika aku dan (sebut aja) Ara, kami adalah sepasang sahabat. Lebih jelasnya sahabat yang baru ketemu di SMA. Dia laki-laki, terdengar aneh memang bahwa aku berteman dekat dengan anak laki-laki, apalagi sahabat. Waktu itu kami sedang makan siang di warung mie ayam setelah pulang sekolah.

Entah kenapa, terkadang aku memiliki insting berbeda tentang Ara. Kadang aku berpikir, dia adalah teman yang baik, kami bahkan kadang lupa kami laki-laki dan perempuan. Alhasil kami memang selalu begitu, kemana-mana tak pandang bulu. Mau dia pakek bamper hijau sama celana pendek jins selutut dan aku kaos oblong abu-abu sama celana jins item, intinya kami pasti bisa macingin diri. Mungkin ini namanya sahabat tanpa mata, mau pake apa aja yang penting heppy. Tapi sebagai perempuan, mungkin aku tergolong tidak fashionista. Aku pake baju apa aja yang penting nyaman, Ara juga tidak pernah protes dengan pakaian yang aku pakai. Setidaknya di mata laki-laki melihat perempuan begitu harusnya sedikit berkomen untuk berbenah diri. Tapi dia pernah sekali bilang “Perempuan itu harus jaga diri baik-baik, Di.”. Dan Ara, dia berbeda jauh denganku. Dia tergolong anak gaul. Pakaian dia tidak pernah ketinggalan jaman. Dia juga anak orang kaya. Tapi tetep aja, polosnya minta ampun.

"Dah buruan pesen." Katanya sambil kantongin kunci motor. Aku manggil bapak penjual mie ayam.
"Pak, dua ya sama es teh juga." Kataku. Aku ambil hp dari kantong lalu mulai mengetik beberapa kata di message.
"SMS pacar?." Katanya dia sambil nahan ketawa.
"Ngaco, sms mama. Takut khawatir." Kataku meyakini. Setelah sms mulai terkirim hpku kutaruh di meja. Ara mengambil hpku dan mulai memencet beberapa tombol.
"Emang mama kamu bisa khawatir sama anak kaya kamu?." Kata dia lagi. Ini jelas-jelas nyindir banget.
"Berisik. Telingaku bernanah denger kamu ngomong." Kataku mulai ngambek. Dia ketawa.
"Kamu lagi halangan ya? Tumben sensi gitu?." Katanya lagi. Hpku mulai dibalikin ke aku dan mie ayam pesanan kita sudah di antar disusul dengan es tehnya.
"Jadi, sekarang kamu yang bayar?." Kataku sambil menyedot sedotan es teh. Dia bicara di balik kunyahan mie ayamnya. Mulutnya penuh, aku yang ngeliat otomatis ketawa.
"Uda lu kunyah dulu deh mending. Sorry sorry aku mastiin aja, gak bawa duit soalnya." Kataku bercanda sambil gigit lidah.
"Dasar, uda ngutang berapa lu?." Katanya sambil minum teh. Aku mengangkat bahu.

Kami berlanjut makan sambil diam. Awan di luar mulai menunjukan akan hujan, aku sedikit gelisah karena tidak bawa jas ujan. Tapi melihat motorku yang kotor kena lumpur, kucoba ikhlaskan hujan-hujan biar motor sekalian mandi. Ara masih ribut sama mie ayamnya sambil main hp. Dan tentu saja.. mie ayamku sudah habis. "Dasar sinden lelet makan" kataku dalam hati. Ara memandang suasana gelap di luar lalu bicara padaku.

"Kamu gakpapa pulang hujan-hujan?."
"Gakpapa, liat motorku. Ancur begitu kaya mobil militer yang habis jalan-jalan di hutan belantara. Lagian besok seragam uda gak dipakek kan." Kataku. Ara senyum lega. Alisku bertaut lalu dia sibuk dengan hpnya lagi.

Beginilah kami. Aku sendiri tidak begitu paham kenapa kami bisa sedeket ini. Ini semua berawal dari sekelas lalu berlanjut satu kelompok dalam pratikum biologi. Tragis sekali aku bisa berkelompok dengan dia, pandangan pertamaku Ara adalah anak nakal, malesan, tidak mau bekerja sama. Eh ternyata aku salah, dia kebalikan dari penilaianku, yah kecuali yang "malesan". Sampe sekarang yang namanya PR selalu nyonto aku.

"Eh, gue mau tanya ni." Kata dia yang mulai mematikan hpnya lalu memandangku. Aku yang sedang terlarut melamun memandang awan langsung liatin dia. Mukanya serius banget.
"Tanya apa an?." Kataku. Dia diem.
"Kamu ntar mau kawin umur berapa?." Begok. Ini adalah pertanyaan yang sangat tidak masuk akal melihat situasi yang mendung dan dingin ini. Alisku naik satu. Tapi Ara tetap menunggu jawabanku.
"Kenapa? Lu hamilin anak orang? Pengen kawin cepet-cepet?." Kataku ngaco. Dia ngambil nafas, cuping hidungnya membesar lalu mengecil. Aku tahu dia sedang sabar dan tabah menghadapi makhluk sepertiku.
"Gue serius." Katanya. Aku menimbang-nimbang untuk menjawab pertanyaanya.
"Hhmm.. antara 25-27an. Gue gak mau anak gue lahir pas gue tua. Nape si? Lu nanyak ane-ane." Kataku. Dia senyum. Aku mulai merasa ada yang tidak beres dengan dia.
"Gkpapa, lu ntar mau kawin sapa cowok kaya apa?." Aku diem. Aku sejujurnya emang selalu dapet penglihatan suamiku nanti kaya apa. Mungkin kaya Robert Pattinson yang cakepnya luar biasa ato jangan-jangan aku malah dapet anak-anak band kaya Kangen Band. Tidak tidak..
“Lu duluan.” Kataku menyerah. Dia ketawa.
“Hhhmmm.. cantik, baik, keibuan, sayang gue, bisa hasilin anak banyak, sexy.” Aku uda duga anak bajingan ini bakal jawab itu.
“Lu kawinin Julia Perez no.” Kata ku dengan mimik wajah kasian. Dia ketawa lagi. Dia ambil tisu lalu dilapkan di meja dia.
“Sebenernya gak sedetail itu si. Tapi garis besarnya kaya gitu lah. Intinya, aku mau kawin sama perempuan yang agamanya bagus, dia penyayang, dia mau nerima aku apa adanya, dia sangat sayang sama orang tuaku, dia bisa diajak bicara baik-baik. Yah kalopun ntar istri gue gemuk tapi syarat tadi masih ada, masih gue terima lah. Pokoknya kita cocok jiwa dan raga.” Kata dia. Aku mengangkat alis, aku tidak percaya anak seperti dia bisa berpikiran murni begitu. Padahal setauku, mantan-mantan dia adalah cewek bohai-bohai dan sangat amat begok. Dia jarang macarin cewek pinter, kasian banget.
“Lu bisa mikir sejauh itu juga Ra, gue terharu.” Kataku bercanda.
“Sekarang lo.” Katanya nagih. Aku berpikir sebentar.
“Aku mau cowok kaya Rangga di Ada Apa Dengan Cinta.” Kataku nyelocor. Dia masih mandang aku, hening, Aku lupa satu hal, Ara adalah anak yang jarang nonton film begituan. Dia rajin liat film tidak jelas seperti “Cinta Rock n Roll” ato sebangsanya.
“Yang mainin Diansatro, Ra. Lu beneran gak tau?.” Tanyaku. Dia menggeleng. Temen gue satu ni!
“Oke de. Jadi gini, Rangga itu anak yang diem. Dia sukanya menyendiri. Bawaannya buku sastra gitu lah, tapi ya emang cakep juga si. Orangnya sensitive banget, tapi aslinya hatinya itu lembut banget. Apalagi sama perempuan, jadi kalo bayangin aku lagi sama dia. Mungkin aku ngerasa dilindungi gitu lah. Pokoknya top banget deh tu orang.” Kataku. Dia masih liatin aku, akspresinya tak bisa ditebak.
“Yah cocoknya sama kamu. Dia suka baca buku, kamu juga suka. Kamu mau jadi penulis sastra, dia suka buku sastra. Sekarang yang jadi pertanyaan terbesar, emang ada cowok kaya gitu di jaman sekarang?.” Itu adalah pertanyaan paling brilian. Aku diem, jelas aja aku diem. Aku harus jawab apa coba?. Ara bener, jaman sekarang itu yang namanya laki-laki susah dibuat setia. Mereka pada suka dunia yang hura-hura, kalo jaman dulu kan laki-laki lebih suka petualangan. Mereka suka nyari sesuatu yang baru. Beda 100% banget.
“Yah mungkin gue ngimpi dapet suami kaya gitu.” Kataku mengalah pada kenyataan. Ara senyum. Aku melihat gaya senyuman dia yang polos, Ara cukup cakep. Aku kadang tak berpikir untuk menilai wajah dia.
“Kenapa lo senyum-senyum?.” Kataku. Dia memandangku sembari mendekatkan wajahnya pada wajahku.
“Lo tu lucu Di. Lo tu apa adanya. Kenapa lo harus ngimpiin harepan yang besar kaya gitu? Banyak cowok yang ngarepin lo Di. Buka dong matanya. Soulmate yang baik adalah soulmate yang bisa nerima apa adanya.” Kata dia.
“Tapi kalo seandainya Rangga itu ada, dia bakal nerima gue apa adanya lah.” Kataku nyolot. Ara diem tapi matanya masih natap aku. Aku sedikit tersinggung dengan apa yang barusan dia bilang. Mungkin impianku terlalu tinggi, tapi memang itu tipe cowokku kan. Mau apa lagi?. Aku memandang awan lagi, sekarang titik-titik hujan mulai turun. Baguslah, motorku bisa mandi beneran sekarang.
“Aku suka cewek yang pinter bercerita.” Kata Ara tiba-tiba. Aku menoleh pada dia. Matanya menatap hujan juga.
“Maksudnya?.” Kataku.
“Yahh… dia bisa dongeng. Dia tau banyak cerita-cerita dongeng. Jadi ntar anak gue bisa sering dapet dongeng sebelum tidur, tau kan maksdunya?. Gue kan bukan orang yang jago bawa buku kemana-mana, jalankan buku, yang namanya sastra aja baru tahu setelah gue temenan sama lo.” Kata dia jujur. Aku liatin dia dalem-dalem. Kepalanya menoleh lurus padaku lagi. Wajahnya di dekatkan lagi di wajahku.
“Di, gue emang buta roman. Gue gak tau gimana cara buat puisi. Gue gak bisa ambil hati cewek pake nyanyi sambil gitaran. Tapi gue bisa jadi diri sendiri supaya cewek itu bisa baca diri gue, selain itu dia juga tau kalo yang namanya cinta gak harus orang-orang kaya si Rangga itu.” Aku terdiam. Dia juga diam. Lalu dia beranjak untuk membayar mie ayam kita. Aku pengen teriak bilangin dia soal mie ayamku yang mau aku bayar sendiri. Tapi kuurungkan niat itu. Ara sempat tersenyum ke aku, lalu aku balas dengan senyuman terpaksa. Karena aku sendiri tak tahu aku ini kenapa. Ara benar-benar aneh..

Satu hal yang kupikirkan. Ara memang tidak beres, dia beda. Tapi entah kenapa, aku mulai sedikit menyukai dia (bukan sebagai sahabat).

Kisah

Senin, 07 Februari 2011


Ini kisah pendek ketika aku pernah sekali bertanya padanya ketika kami sedang terdiam dalam suasana nyaman antara irama lagu yang berbunyi dan gambar pemandangan diluar jendela mobil seakan film dokumenter berputar di pinggir dan depan kami. Dia bukan tipe banyak bicara, aku tak perlu repot-repot cerewet bercerita tentang kisahku karena aku juga sama seperti dia, kami tidak hobi dalam hal banyak bicara.

Pemandangan mulai hijau ketika mobil berbelok melewati petak-petak sawah seakan selimut hijau terbentang di sekeliling kami. Matahari sedang berterik hangat ketika aku merasakan tanganku terkena seberkas cahaya pantulan kaca mobil.
"Boleh ambil kamera?." Kataku siaga menyentuh resleting. Dia mengangguk, matanya fokus pada jalanan dan spion depan. Aku mengangkat bahu dan mulai mengambil kamera. Kubuka tutup frame dan memencet ON lalu mulai menempelkan mata di kap kamera siap membidik. Sekitar 15 detik aku membidik gambar. Mengambil gambar dari dalam mobil mungkin tak begitu menyenangkan daripada langsung dari luar. Tapi aku suka dengan hasilnya.
"Coba kamu buka jendela sebelahmu. Terus ambil gambar dari sana." Katanya menyarankan. Aku segera menuruti dan langsung memutar scrol jendela.
Udara berhembus seakan siap menerbangkan apa saja dari dalam mobil. Rambutku kugurai dari ikat buntut kudaku, kubiarkan rambutku menikmati angin ini. Rasanya seperti terbang. Udara terasa bersih, tak seperti di kota yang penuh polusi. Aku mulai mengambil gambar "..1...2..3" Clik.
"Kamu mau jadi apa sih kalau sudah besar nanti?." Katanya bertanya. Aku lama diam, tapi aku tahu dia menunggu jawaban.
"Aku mau jadi penulis. Kenapa?." Kataku. Dia tersenyum. Aku menunggu.
"Kenapa bukan Photographer?." Aku mengangkat bahu.
"Anggap itu cadangan buat masa depan." Kataku singkat. Dia tak berargumen lagi. Kupikir yang dikatakan dia benar. Aku suka mengambil gambar apapun, dan tak perlu objek manusia. Menurutku manusia tak perlu cantik dengan urtitude macam-macam. Mereka terlihat luar biasa dengan mereka yang sesungguhnya. Ketika mereka tertawa, berbicara, melamun, menangis, marah atau bahkan ketika mereka menutup mata hanya untuk sekedar mengambil nafas bahkan ketika sedang tidur. Mengambil gambar dari objek manusia dengan ekspresi seperti itulah yang buatku kagum betapa luar biasanya wajah mereka tanpa harus neko-neko.
"Kau lebih suka aku jadi Photographer?." Kataku.
"Aku lebih suka kau jadi apa yang menurutmu hebat bagimu." Katanya lagi. Dia tampak puas dengan jawabannya.
"Memang dulu kau ingin jadi apa?." Kataku bertanya. Dia terdiam. Kami mulai sedikit menjauh dari petak-petak sawah. Kini kami berada di pekarangan desa.
"Aku pernah bercita-cita menjadi pilot. Menurutku itu keren, kau bisa terbang kemana saja. Kau bisa melihat awan. Kau bisa melihat pulau dari atas. Itu pasti jadi pemandangan luar biasa, tapi itu hanya sebatas keinginan anak umur 5 tahun." Katanya. Aku menunggu.
"Lalu aku pernah ingin jadi pelukis. Menurutku gambarku bagus. Aku sering mendapat upah dari teman sekelas ketika mereka tak bisa mengerjakan tugas menggambar mereka. Dan aku juga suka menggambar. Tapi itu sirna mengingat aku tak bisa membayangkan apa yang bisa kugambar lagi. Imajinasi sirna seiring waktu, dan aku tak bisa menyalahkan diriku untuk selalu punya imajinasi." Dia benar dalam poin ini.
"Lalu kau ingin jadi apa?." Kataku bertanya. Dia berdiam lama. Lalu dia menjawab.
"Aku ingin menjadi contoh yang benar untuk anak-anakku nanti. Tak masalah jika kau punya sejuta keinginan di masa depan. Kita memang tidak tahu masa depan akan bicara apa, entah kita memiliki pendamping hidup atau tidak. Itu adalah konsep Tuhan. Tapi aku ingin merasakan bagaimana menjadi contoh untuk mereka yang punya dunia dari mata mereka sendiri. Aku akan mengantar mereka ke terbang jika mereka membayangkan mereka sedang terbang, aku akan membawa mereka ke laut jika mereka rindu birunya laut untuk dilukis. Dan aku akan membawa mereka keliling dunia jika mereka ingin mengambil dan mengabadikan gambar yang mereka bidik sebagai kenangan mereka hingga dewasa nanti. Orang yang berhati besar bukan orang yang bisa memberimu apapun yang kau mau, tapi dia yang bisa mengantarkanmu di pintu depan dan selanjutnya kau yang akan meraih sendiri keinginanmu." Katanya mengakhiri.

Telingaku jelas mendengar apa yang dia ucapkan. Tapi mata dan tanganku pelan-pelan melihat hasil gambar bidikanku di kamera. Tanganku berhenti memencet tepat pada gambar sawah hijau yang luas dan jejeran pohon hasil bidikanku, gambar itu sedikit aneh karena mungkin bila sedikit dicermati kau akan melihat pohon itu seakan terbawa angin, seakan bergerak menjauh dari kameraku ketika berhasil kubidik. Aku tersenyum pada diri sendiri.
"Kurasa kau berhasil membawa mereka keliling dunia." Kataku lirih.

Tanpa Judul

Kamis, 23 Desember 2010


Benarkah Aku Hidup?? Benarkah Aku hidup sama seperti anak-anak yang lain?? Benarkah Aku hidup untuk ini semua?? Sudah berapa kali aku harus berkata "Aku" untuk diriku sendiri??

Kenapa Realita begitu kejam, kenapa dunia ini selalu tampakkan senyuman sedangkan dibalik itu harus ada air mata. Kenapa semua orang begitu egois mereka begitu beruntung sedangkan harus ada yang merasa dirugi, kenapa ada istilah tak ada yang sempurna sedangkan beberapa orang merasa dirinya sempurna, kenapa Tuhan memberi neraka pada manusia yang tak senormal biasa tapi berhati malaikat..

Haruskah aku lari. Haruskah aku lari dari kenyataan bahwa "ya.. semua dari awal adalah suatu kesalahan."

Ada beberapa orang yang terbeda. Menurut dongeng, kisah, cerita. Ada orang yang memiliki apa yang dia inginkah, bahkan yang tidak dia inginkah. Apa yang tidak bisa dimiliki orang bisa dia miliki. Dia adalah yang terkaya, orang yang sempurna dan selalu bisa memiliki semua. Tapi hatinya miskin, bahkan pengemis tak akan bisa mengalahkan betapa miskinnya dia. Betapa sepinya hatinya, betapa suramnya matanya, dia mungkin bahagia tapi... mati.
Sedangkan yang lain, hatinya begitu kaya, bahkan tak ada yang bisa menyadari dia bisa hidup dibalik runtuhan rumahnya. Tak ada yang percaya orang seperti itu bisa hidup dengan senyum dan warna hidup itu seperti itu. Dia jauh lebih miskin, jauh lebih tak memiliki apa-apa selain tubuh tempat menopang jiwanya. Tapi dia hidup.
Ada beberapa orang yang hanya hidup dengan kebohongan, matanya adalah kedengkian, adalah paksaan. Tapi jika dada itu kau belah, kau akan melihat berlian dibalik hatinya yang hitam. Semua tahu dia jahat, lebih jahat dari iblis yang diciptakan Tuhan, tapi cermin berkata dia adalah mahkluk paling mulia. Tapi apakah Tuhan memberinya Surga?


Kita terlahir dalam sucinya air mata Ibu. Kita lahir bagai kertas tak tersentuh. Kita terlahir dalam mata Tuhan yang tenang dan berkah atas hembus nafas yang kita hirup. Bukan sebuah kesalahan kita lahir dalam pelukan bahagia.
Jam bergerak bak air laut, terus menghempas dan merusut lagi. Cepat dan tenang. Dan akhirnya.. seseorang bukan sebuah boneka kecil yang hanya bisa menangis. Dia bisa berpikir, hatinya dapat tersentuh, matanya dapat melihat yang benar dan yang salah. Dan beberapa berpikir, "Untuk apa aku hidup?? Untuk apa aku hidup dengan kebohongan yang selalu menutupiku?? Untuk apa aku hidup seakan ini yang harus kulalui?? Kenapa orang lain tak bisa merasakan yang kurasakan, agar mereka tahu dunia tak adil dibeberapa sisi, tak adil bagiku. Kenapa harus aku....."
Menangis pun tak akan merubah segalanya. Segalanya yang sudah terjadi tak akan bisa dirubah lagi. Tuhan.. aku harus apa lagi..

"..mungkin aku harus sakit. Benar-benar sakit, sakit yang parah, bahkan aku sendiri tak menyadari bahwa aku masih bernafas. Agar mereka berdua bisa kembali.. menyadari kesalahan mereka, melihat putri mereka tertidur lemah dan akhirnya mau berubah.. sampai aku tak bisa merasakan angin berhembus di paru-paruku lagi. Tapi aku bisa melihat mereka berdua bersama lagi, walau di dunia sana.." (A.A.A 12/12/10)

"..Aku takut untuk jatuh cinta. Aku takut untuk menikah. Aku takut mempercayai seseorang. Aku takut akan komitmen. Aku takut membuat kesalahan dan saling menyakiti seperti kalian. Itu semua karena kalian, Ibu.. Ayah. Kalian buatku takut untuk hidup...." (A.A.A 7/9/10)

my love ..

Selasa, 22 Juni 2010


Ketika kulit tangan ini mulai mengkerut, wajah ini tak semulus dulu dan rambut tak sehitam dulu, tapi hatiku padamu tak akan pernah tua. Aku kan selalu mencintaimu. Walau kini tubuh itu tertidur damai dalam peti hitam tersembunyi dalam tanah, Aku tak pernah lelah menyatakan cinta padamu..

Sudah hampir 14 tahun aku mengunjungi makam itu. Makam dimana kau tertidur hampir 25 tahun lamanya, ketika aku menyadari aku memang mencintaimu. Saat itu pernikahanku dengan suamiku. Dan kau meninggalkanku untuk selamanya. Aku tak pernah menyadari betapa aku mencintaimu, karna kau Sahabatku. Kulewati hari demi hari hingga tahun demi tahun denganmu. Hingga hari besarku tiba. Kau menyalami lelakiku, dengan senyum bahagia seorang sahabat kepada calon suami sahabatnya, tapi itu berubah ketika kau dan aku berbicara di taman bermain sehari sebelum aku menikah.

"Kau menang.." Katanya padaku seraya tertawa lirih. Dan kami diam. Hingga ia berhenti dari jalannya dan menatapku.
"Kau mencintainya kan?." Katanya memandang mataku. Kulihat mata biru itu begitu dalam. Sedalam laut..
"Ya, tentu. Dia akan jadi suamiku, kan." Kataku tersenyum. Beberapa saat kemudian ia tersenyum. Tapi.. aneh.
"Kau.. tidak mencari wanitamu?." Kataku mulai berjalan lagi, dan ia menyusul.
"Aku belum menemukannya." Katanya dalam tawa. Aku pun tertawa.
"Kau pasti mendapatkan yang kau mau. Aku membayangkan anak kita bermain bersama suatu hari nanti, dan kita para orang tua duduk di kursi taman melihat mereka bermain seluncur bersama." Kataku tersenyum, benar-benar membayangkannya.
"Wow, itu bayangan calon orang tua rupanya." Katanya seperti menghina. Aku menoleh padanya dan metautkan alis. Ia menatapku dan mengucapkan sebuah kata tanpa suara. Tapi aku tahu apa itu, ia berkata "Sorry."
"Kita kan jadi orang tua. Tidak salah kan." Kataku mengingatkan. Kudengar ia mendengus dan tersenyum. Kutatap dia dari samping. Ia tersenyum memandang kakinya. Ya tuhan, aku begitu lupa betapa tinggi ia. Rambutnya yang hitam berombak berantakan terkena angin malam, bibirnya tipis merona. Dia berbeda ketika aku pertama kali bertemu saat berumur 5 tahun. Dan hebatnya kita tetap bersama hampir 20 tahun ini. Tapi ia benar, aku menang. Aku meninggalkan masa sendiriku lebih dulu.
"Kita tetap berteman kan? Aku yakin lelakiku tak mungkin cemburu padamu. Maksudku, ia mengenalmu sebagai sahabatku dari kecil." Ia berhenti dan menatapku. Lalu ia tersenyum, memamerkan giginya. Senyumnya hangat.
"Tentu." Dan akhirnya, aku begitu lega mendengarnya.
"Selamanya." Ia menambahkan. Dan aku tersenyum padanya.
Ia maju padaku dan memelukku. Malam itu tak ada tanda apapun darinya. Ia hanya tersenyum setiap aku beropini. Aku pasti merindukanmu kawan, peluk ini dan segalanya..


Dan esoknya, ketika lonceng gereja menggema dan lagu pernikahan berbunyi. Pintu gereja terbuka didepanku. Dengan tangan ayahku menggandeng tangan kananku menuntunku hingga altar dimana lelakiku berdiri menungguku. Semua mata undangan melihatku, aku tak mungkin melihat satu-satu. Tapi aku sadar, sahabatku tak hadir. Aku tetap tersenyum, sesungguhnya ini adalah hari besarku. Aku tak mungkin sedih hanya dengan 1 masalah. Ketika aku melihat tangan ayahku yang bergetar gugub memegang tanganku, aku lupa satu hal. Seharusnya posisi ini bukan posisi ayahku. Ini posisinya, posisi sahabatku yang tidak hadir hari ini. Senyum dari wajahku hilang seketika. Tapi aku terus berjalan hingga semua acara berakhir, janji suci kami dan ciuman mesra dari lelakiku lalu melempar buket bungaku. Aku berharap sahabatku yang menangkapnya. Tapi mengingat ia tak datang... dan anehnya, buket itu tak tertangkap oleh siapapun, terjatuh begitu saja di tanah. Entah mengapa, aku tahu aku bahagia. Itulah perasaan normal yang memang harus kurasa. Tapi ini aneh, aku mendadak takut..

Acara berakhir, dan aku berjalan keluar gereja menuju mobilku. Dan tiba-tiba ayahku datang, ekspresi itu sedih. Dan ia memelukku. Mulutnya berbisik padaku, bagai suara belati menusuk hatiku hingga benar-benar terbelah. Aku sadar, ketika kata-kata itu berbunyi "Ia pergi. Tuhan mengambilnya dihari pernikahanmu. Maafkan ayah, nak. Tapi ia menitipkan sesuatu padamu" Sadarlah aku, aku menangis. Ayahku melepas pelukannya dan memberi seikat bunga rose putih indah padaku. Dengan tali panjang yang mengikat beberapa helai bunga itu. Bunga itu ada yang rusak, kelopaknya tak karuan tapi ada beberapa yang masih utuh. Sesungguhnya bunga itu lebih indah dari buket yang kulempar tadi, aku mencium harum bunga itu. Harum yang sama seperti harum tubuhnya ketika memelukku. Satu-satunya yang tersisa darinya.. hadiahku darinya. Ketika aku sadar sekuntum bunga yang terlihat buatan, kubuka kelopak itu dan sadarlah aku, itu adalah sebuah kertas yang dilipat serupa dengan bunga, tulisan panjang yang kukenal, indah dengan tinta hitam. Disitu tertuliskan,
"Selamat atas hari besarmu. Semoga kau bahagia. Satu kata untukmu, aku selalu mencintaimu.."
Dan, air mata ini semakin deras tak menentu..




Aku duduk di pemakaman ini. Aku membacakan sebuah surat padanya, dengan cerita tentang harapan anak-anak kita kelak. Sebuah surat balasan dari bunga itu, sudah 14 tahun aku membalas surat itu, tanpa ia membalasnya satupun.
Ia sahabatku, hingga kapanpun.
Dan dengan abadinnya, ia juga cintaku, cinta untuk selamanya..
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS