Extraordinary People

Senin, 06 Agustus 2012

Seseorang memberiku semangat lagi hari itu. Aku tahu aku pasti bisa kembali, bagaimanapun caranya. Karena jalan seseorang adalah ketika seseorang itu terlalu lama melangkah, tapi dia berhenti sejenak dan menoleh kebelakang, menatap dirinya yang dulu lalu menemukan dirinya yang sesungguhnya.
Aku selalu ingin menjadi penulis. Menulis kisah adalah tempatku pulang. Menulis kisah membuatku menatap hidup lebih sederhana, melihat setiap orang dengan karakter yang berbeda didunia aslinya. Ketika didunia mengatakan mereka kejam, jahat, dan egois, aku bisa membuatnya menjadi kebalikannya. Itu bukan kepalsuan. Ini tentang bagaimana dia bisa berubah menjadi seperti itu. Hal itu mendasari teori bahwa karakter seseorang belum tentu asli dari dirinya. Karena kita adalah kertas putih, kita tidak tahu apa-apa. Orang-orangnya yang membuat sifat seperti itu. Tapi dalam kisahku, aku bisa merubah orang itu menjadi orang yang luar biasa dengan menutupi sifatnya. Aku percaya semua orang memiliki sifat yang baik dalam hatinya.
Hal ini mengingatkanku pada Anne Frank. Aku pernah membaca sebuah buku berjudul Diary of Anne Frank. Kisah bagaimana keganasan manusia pada saudaranya sendiri. Walau keluarga Anne adalah Yahudi/Holocaust, dia hanya seorang anak berumur 9 tahun yang melihat dunia dengan matanya sendiri. Dia dan keluarganya termasuk korban Nazi pada Perang Dunia Ke II.
Salah satu kutipan kusukai dari bukunya adalah "Human greatness does not lie in wealth or power, but in character and goodness. People are just people, and all people have faults and short comings. But all of us are born with a basic goodness." (;Kebesaran manusia bukan terletak pada kekayaan atau kekuasaan, tapi pada karakter dan kebaikan. Orang tetaplan orang, semua orang memiliki kesalahan dan kekurangan, tapi kita semua dilahirkan dengan kebaikan). Bagiku, kata-kata semacam ini keluar dari pikiran seorang korban Nazi adalah kata-kata yang luar biasa, melihat bagaimana manusia-manusia itu memperlakukan mereka bak hewan ternak, menganiaya, menembakkan peluru ditubuh mereka seperti mainan setiap hari, dan dia masih berumur 9 tahun. Mimpinya sederhana, dia hanya ingin menjadi penulis, dia ingin memiliki seorang suami kelak, dia ingin hidup bahagia dengan keluarganya, dia ingin bekerja untuk anak-anaknya kelak. Bagaimana dunia bisa setega ini dengan manusia yang seperti itu?
Aku merasa beruntung menjadi seperti ini. Orang biasa yang hidup didunia yang luar biasa. Aku belajar melihat seseorang. Kurasa dunia ini adalah sekolah paling luar biasa. Kita tidak belajar dengan teori, tapi dengan melihat dan merasakan bagaimana kita hidup. Menemukan orang yang berbeda setiap saat. Aku pernah bertemu seorang laki-laki tukang salon, dia terlihat mengerikan, tato ditubuhnya dan garis wajahnya seperti preman. Tapi sahabatku memperkenalkan dia padaku, dan responku hanya tersenyum. Ketika dia memermak rambutku, laki-laki itu hanya tersenyum sesekali melihatku.
"Kenapa mas?"
"Enggak mbak. Lain kali lebih banyak bersyukur ya." Aku mengerutkan kening. Bagaimana orang ini bicara seperti itu? Aku tetap diam.
"Maaf mbak kalo lancang. Tapi saya bisa melihat." Aku terguncang. Melihat? Melihat bagaimana?
"Maksudnya mas?" Laki-laki itu tersenyum lagi dibalik rambutku sambil menganyunkan guntingnya.
"Saya bertahun-tahun jadi tukang salon. Kalo nyari uang sih saya bisa, kerja di tempat yang lebih dari tempat ini, maaf ya mbak. Tapi dari sini saya bisa belajar." Sahabatku disebelah tersenyum dibalik blackberry-nya. Aku masih tidak mengerti.
"Buat saya, jadi tukang salon ga hanya benakin rambut, ga kaya di tipi-tipi cowoknya mlengse semua. Tapi dari sini mbak.." Laki-laki itu menunjukkan matanya.
"Jangan kaget. Tapi saya bisa melihat orang dari matanya. Dari cara dia melihat dirinya dicermin waktu saya sedang motong rambutnya. Saya bisa tahu dia sudah beban masalah apa aja, saya bisa tahu dia orang-orang biasa ato orang-orang yang ga biasa. Saya bisa lihat garis wajahnya waktu diam, saya bisa tahu bagaimana orang itu sudah sejauh mana mengendalikan dirinya dengan masalahnya." Aku diam.
"Ga kaya ini nih, saya bisa tahu dia banyak masalah. Kalo dibandingin mbak, ga ada apa-apanya." Katanya sambil nunjuk sahabatku yang disebelah disebelah.
Ya, aku tahu sahabatkuku ini. Bahkan mungkin lebih tahu daripada laki-laki ini. Tapi dari teorinya, dari cara berpikirnya, aku tahu kami sama. Dia, aku, dan temanku. Kami punya cara yang berbeda untuk jadi beda. Dan aku hanya tersenyum. Ini pertama kalinya aku merasa pulang setelah perginya sahabatku. Sahabat terdekatku. Sahabatku yang tahu seluk-beluk ku dari nol hingga saat ini.
Dari kisah ini, aku mendapat pelajaran seperti kutipan dari C.S Lewis(1898-1963). Penulis buku petualangan-fiksi Chronicles of Narnia. "We meet no ordinary people in our lives." (;Kita tidak bertemu dengan orang sama dalam kehidupan kita)
Untuk sahabatku ini. Mungkin bagian terakhir ini kupersembahkan untuk dia. Karena bagiku, dia salah satu orang-orang luar biasa dalam daftarku. Sudah lama kami tidak bertemu. Tentu saja, bagaimana tidak. Dan aku selalu berdoa kami bisa tertemu nanti. Mungkin rencana Tuhan untuk tidak mempertemukan kami, karena kami punya mimpi untuk sukses kelak. Dia ingin ke Jepang. Dan aku selalu ingin bisa ke Inggris. Kami punya mimpi dan cita-cita yang beda. Dan dia mengingatkanku semua saat itu, dia buatku ingin mengerjarnya lagi. Seperti kata Andrea Hirata, "Di sekitar kita ada kawan yang selalu hadir sebagai Pahlawan." Dan kini aku mengerti maksudnya. Aku tidak tahu sudah sejauh mana sahabatku ini mengejar semua mimpinya, tapi aku yakin dia pasti sudah jauh daripada diriku, dan aku tidak iri, aku bahagia, aku selalu berdoa yang terbaik untuknya, untukku, dan untuk mimpi kami.
Malam itu dia berhasil buatku merasa pulang walau aku sudah dirumah dan tanpa aku harus bertemu dengan dia lagi. Semangatnya dalam bidangnya buatku berpikir sudah waktunya aku membuat kisah lagi. Dan hari ini terjadi. Dia adalah orang kedua setelah ayahku yang benar-benar percaya aku bisa menjadi penulis. Dan aku sangat bahagia mendengarnya.
Kami bicara tentang rencana kuliah dan masa depan. Dan bagaimana masa depan rasanya begitu cepat? Rasanya baru kemarin aku pulang sekolah menaiki sepeda kuningku, rasanya baru kemarin aku mengumpulkan tugas membuat Novel dari guru Bahasa Indonesia SMPku, rasanya baru kemarin aku melihat kakak kelasku wisuda, nama, tempat dan tanggal lahir, begitu juga universitas dan jurusannya dibacakan diatas panggung didepan seentaro sekolahan ketika aku baru mendaftar SMA.
Sebentar lagi, aku akan merasakan itu. Kali ini, aku tidak sebagai siswa baru. Aku akan menjadi alumni, atau lebih lepatnya, calon mahasiswa bersama ribuan bahkan ratusan calon di Indonesia. Termasuk sahabatku yang berada di Jakarta. Terima kasih.
"It matters not what someone is born, but what they grow to be." -J.K Rowling
"I want to write, but more than that. I want to bring out all kinds of things that lie buried deep in my heart." -Anne Frank
"You can make anything by writing." -C.S Lewis
"Begin at the beginning and go in 'till you come to the end; then stop." -Lewis Carroll
"Life is a long lesson in humanity." -J.M Barrie
"Some of us get dipped in flat, some in satin, some in gloss. But every once in a while, you find someone who's iridescent. And when you do, nothing will ever compare." -Flipped (Movie)
"..and in that moment. I swear, we were Infinite." -Stephen Chbosky
"Why you still writing?" "..because I love it, and I need it.." "How you've liked to be remembered?." "Someone who did the best she could what the talent she had." -J.K Rowling

Last Kiss

Rabu, 18 April 2012

"..pernah dengar bagaimana seorang kelas bawah menjadi jutawan? Itu adalah kisah yang biasa ditelinga kita. Tapi terjadi secara kenyataan justru jarang sekali. Jadi, buat apa kita takut mengambil satu langkah untuk perubahan kita di masa mendatang?."
Semua orang bertepuk tangan seraya tertawa. Gadis didepan itu tersenyum malu lalu melanjutkan.
"Aku ingin berterima kasih untuk guru-guruku. Beliau-beliau adalah pahlawan, aku tak akan sampai disini tanpa kalian. Terima kasih."
Deretan guru-guru bertepuk tangan seraya menganggukkan kepala. Wajah mereka bahagia dan bangga.
"Aku juga berterima kasih untuk keluargaku, terutama orang tua. Sungguh, ayahku pernah bilang bahwa perjalanan kita masih panjang. Aku tahu itu, setelah aku keluar dari sekolah ini, aku akan bertemu kehidupan yang sesungguhnya. Dan aku harus siap, dan kurasa ribuan calon mahasiswa disini harus siap. Terima kasih."
Katanya dengan mata berkaca-kaca. Aku tersenyum setuju.
"Dan yang terakhir, untuk kawan-kawanku. Terima kasih, mungkin beberapa dari kalian ada yang tidak mengenalku. Tapi jujur saja, aku tetap menganggap kalian keluargaku. Percayalah, setelah acara ini, kita akan berubah menjadi orang yang luar biasa. Luar biasa untuk diri kita dan orang-orang disekeliling kita. Karena ini semua baru awal. Kurasa setelah kaki ini tidak menginjak tempat ini lagi, tugas kita adalah melanjutkan semua dengan bekal yang kita bawa. Aku yakin, orang tua dan guru-guru kita adalah orang yang paling bangga pada kita. Kita tidak mungkin menghapus kebahagian mereka, bukan? Yah.. kita adalah pemenangnya pada hari ini."
Ujarnya dengan tawa. Semua bertepuk tangan. Beberapa diantara kami ada yang berdiri menghormati. Aku berdiri dari tempat dudukku dan memberi tepuk tangan paling simpati seperti ribuan siswa dan siswi yang memakai baju wisuda berwarna hitam, toga dan begitu juga ijazah kelulusan. Kami semua berpelukan, aku memeluk teman disebelahku. Aku tahu aku tidak akan begini lagi nanti. Seorang guru memberi aba-aba pada kami, pada hitungan ketiga kami melempar toga kami kelangit. Kami tertawa, bahagia, terharu dan menangis bahagia, kami berpelukan. Sinar kamera blizt ada dimana-mana, menangkap momen setiap wajah kami yang berbeda-beda. Aku berlari menuju ibuku. Ibuku berdiri tersenyum diujung lapangan, tangannya menyentuh tas hitam kecil. Rambutnya diikat sempurna dan sederhana. Dibalik keriput wajahnya aku tahu dia bahagia. Mau tidak mau aku tersenyum bahagia saat tiba didepannya. Aku mengambil tangan ibuku dan mencium punggung tangannya. Ibuku merapikan rambutku dan memelukku.
"Ayahmu pasti bangga." Katanya. Aku mengangguk dalam diam lalu melepas pelukan ibuku.
"Aku tahu."
Kataku singkat. Ibuku tersenyum padaku.
"Aku akan kembali, pulanglah jika sudah selesai bu, jangan tunggu aku."
Kataku.
"Baiklah."
Ibuku mengecup keningku lalu berbalik pergi. Aku berdiri ditempatku lalu berbalik menuju gerumbulan siswa yang sedang berfoto ria. Aku menghampiri temanku, Dan. Dia berlari dan memelukku. Kami tertawa bersama. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan, dia mengecup ubun-ubun kepalaku ketika kami berpelukan. Aku melepas pelukan kami.
"Dasar orang gila."
Kataku dengan tawa. Dia tertawa tak percaya dan berpose dengan lagak model pakaian renang pria. Aku memasang wajah jijik sekaligus tawa. Dia merangkulku menuju gerumbulan yang lebih ramai.
"Aku tidak percaya kita akan pergi dari neraka ini."
Katanya tersenyum. Aku menatapnya dari samping.
"Jangan bodoh, kita akan merindukan tempat ini. Percayalah."
Kataku. Kami tiba di gerombolan siswa-siswa yang sedang berkumpul. Kami saling berjabat tangan, berpelukan dan merangkul satu sama lain. Kurasa hari ini adalah hari dimana orang asing bahkan lupa bahwa dirinya asing, dan orang populer lupa bahwa dia telah berjabat tangan dengan orang cupu. Kami satu. Hari ini kita sama. Seperti kata temanku yang berpidato tadi. Kami adalah pemenangnya hari ini. Dan melirikku sebentar lalu memberi aba-aba bahwa waktunya kita berdua pergi. Aku berpamitan dengan teman perempuanku. Lalu memeluk mereka. Kami akan saling menghubungi ketika sudah memasuki hari pertama di universitas, kami berjanji itu. Aku pergi dan Dan menyusulku dari belakang. Aku berjalan menunggu, tapi Dan tidak muncul di belakangku. Ketika aku membalikkan tubuhku kebelakang. Dia memakaikan toga dikepalaku sembari menciumku. Ciuman kami singkat. Dan ketika kami sudah menjauh satu sama lain. Aku terdiam tak percaya.
"Kau mabuk."
Kataku singkat. Dia tertawa.
"Tidak. Aku hanya.."
Dia terdiam, mencari kata-kata yang pas. Aku menunggu.
"Aku hanya melakukan itu sebelum terlambat."
Katanya sambil tersenyum. Aku menyipitkan mataku. Menatang dirinya yang tertawa polos. Rambutnya yang hitam berantakan, matanya yang coklat lembut terlihat karena pantulan matahari pagi, jas sedikit kusut dengan kerah yang dibuka satu kancing tanpa dasi. Dan adalah pria paling aneh. Dia selalu memakai attitude berpakaian yang terlalu sederhana. Ketika semua siswa laki-laki memakasi dasi, dia tidak memakainya. Aku mengambil nafas panjang lalu berkata.
"Kau tidak akan terlambat untuk itu."
Kataku mengingatkan. Dia tertawa sambil menatap sinar matahari. Kelopak matanya ditutup dan kulitnya yang putih terpantulkan sinar matahari. Aku melihat setiap lekukan wajahnya, lingkaran matanya, garis hidungnya yang mancung, lekukan bibirnya yang tersenyum, dagunya yang melengkung sempurna, lehernya yang panjang serta jakunnya. Aku menghampirinya dan jarak kami hanya beberapa jengkal jari saja.
"Kita akan bertemu lagi nanti kan?."
Kataku pelan. Dia membuka matanya dan menatap mataku. Wajah kami dekat sekali.
"Di Paris, ya."
Katanya singkat. Aku tertawa. Janji kami untuk bertemu nanti.
"Aku akan datang lebih dulu."
Kataku menantang. Dia menarik bibir kirinya membentuk senyuman manis diwajahnya.
"Kupastikan perkataanmu benar."
Katanya. Aku tersenyum lalu berbalik meninggalkan dia.
"Hei!."
Dia memanggilku. Aku berbalik dan menatapnya.
"Pastikan itu ciuman pertamamu. Dan.."
Dia terdiam lagi. Aku menunggu.
"Aku ingin memberi untuk yang terakhir kalinya juga."
Katanya serius. Aku terkejut, aku menatap wajahnya dengan serius. Tapi wajah itu menunjukan ekspresi yang sama denganku. Aku mengambil nafas pelan lalu menjawab.
"Baiklah. Sampai ketemu di Paris."
Kataku tersenyum. Dia tertawa dan aku berbalik meninggalkannya..
Aku berdiri di pinggir jembatan rubin di pusat kota. Lalu lalang orang bersepeda dan berjalan kaki membuatku tidak nyaman. Bagiku, akan lebih baik jika aku disini sendirian. Ditanganku terdapat setangkai bunga mawar merah. Aku mengambil kelopaknya satu persatu dan membuangnya di hulu sungai.
Hembusan angin meniupkan satu kelopak bunga yang baru saja kuambil. Kelopak itu terbang menjauh dariku menuju kiriku. Aku menatap kelopak itu dan berkata dalam hati. "Dan.. itukah kau?"
Aku tersenyum sedih. Aku menatap mawarku lagi. Lalu kuputuskan untuk berjalan meninggalkan tempat itu dan menatap bangunan di sekeliling jembatan. Bayangan menara Eiffel terlihat dari sini. Kuturunkan kepalaku melihat kakiku berjalan.
"Lihat kan? Aku sampai lebih dulu sekarang..
Kataku dalam hati.
"Bagaimana kabarmu sekarang? Bukankah seharusnya kau disini? Jalan disampingku?..
Aku termenung diam.
"Hmm.. aku tahu kau disini. Aku merasakan tanganmu disini..
Aku tersenyum menatap tangan kiriku.
"Maafkan aku tidak bisa menunggu ciuman itu..
Kataku sembari berhenti berjalan. Aku berdiri tepat di depan deretan bayangan menara Eiffel dan diujung jembatan rubin.
"Kau tahu aku mencintaimu bukan?...
Kataku dalam hati.
"kau harus tahu itu.."
Kataku mengakhiri. Lalu kuambil mawarku tadi dan membuang semuanya di sungai. Kubiarkan mawar itu jalan dengan arus air yang damai. Seperti dia yang pergi dengan damai..

Ungu

Senin, 16 April 2012

Ada yang memukul kakiku, tepatnya pahaku. Sebentar lagi aku akan menyentuh tempat itu. Tapi kenapa aku hanya diam berdiri? Pukulan itu semakin keras, dan sambil lalu sesuatu bergetar dari kantong celanaku. Seseorang meneriaki namaku dengan keras.
"Masih berniat melihat sekarang jam berapa?" Seorang gadis membisiku dengan nada datar. Seluruh tempat itu dipenuhi tawa. Rupanya bisikan itu terdengar ditelingak mereka. Aku membetulkan tempat dudukku, mataku lelah sekali. rambutku berantakan, aku sadar itu. Kuambil ponselku di kantong celana dan melihat ada 2 panggilan tak terjawab dan 3 pesan belum dibaca. Pukul menunjukkan masih diangka 22.31 menit. Aku mendengus tertawa.
"Sebenarnya ini masih pagi." Kata temanku yang duduk dibangku sebelah setir.
"Hmm.. begitu ya?" Kataku menghina. Yang lainnya tertawa kecil.
"Well, bangunkan aku pukul 11." Kataku seraya mengatur posisi tidurku.
"Hey! kau akan melewatkan suasana malam tahun baru yang menyenangkan, ini baru awal." Kataku teman perempuan disebelahku yang jarinya menunjukkan bahwa kami berada di jalan layang. Dibawah kami ratusan, bahkan ribuan lampu kendaraan menginari hampir seluruh jalan raya, suara-suara terompet berdengung seirama.
"Kau berusaha menunjukkan padaku bagaimana bentuk dari sebuah kemacetan?." Kataku bertanya, dan menyimpulkan. Dia tidak menjawab, wajahnya menunjukkan keterkejutan. Yang lain tertawa.
"Aku benar kan?." Kataku polos. Teman perempuanku menghela nafas.
"Baiklah, tidurlah sekarang." Rupanya aku telah mengubah atmosfer dalam mobil ini berbeda dengan 5 menit yang lalu ketika aku masih bermimpi menggapai sesuatu yang tidak kuketahui. Kusenderkan kepalaku di kaca mobil. Menatap titik-titik lampu di luar. Kurasa malam ini akan menjadi malam tahun baru paling aneh, biasanya aku pergi bersama keluargaku. Makan malam bersama disebuah restoran atau main kerumah teman ayah sambil menikmati secangkir teh atau kopi hingga jam menunjukkan pukul 12 malam.
Tapi tidak hari ini. 6 temanku bersama-sama menginjinkanku keluar malam ini. Setelah apa yang kulewati di sekolah, rupanya orang tuaku mewajari bahwa anaknya butuh sedikit hiburan bersama teman-temannya. Tapi justru disitulah poinnya, aku lebih suka menghabiskan waktu tahun baru dikamar, makan kue tar sendirian, ditemani tv dan acara favorit, atau mungkin dibumbui deretan film-film box office dan air putih. Kurasa itu sudah menyenangkan. Aku mencoba menutup mataku, tapi yang ada malah aku segera membuka kelopaknya. Aku menelan ludah dan menatap jalanan lagi. Ponselku bergetar tepat ketika aku menarik tanganku dari cepitan antara kepala dan jendelan mobil. Kuambil ponselku dari kantong dan mendapati 4 pesan belum terbaca. 2 panggilan tak terjawab tadi adalah temanku yang membantu membangunkanku tadi. Kubuka kotak masukku dan pesan itu berasal dari 4 orang yang berbeda, yang pertama dari Tomi, dia adalah kakak kelasku yang pernah naksir padaku dulu, tapi kutolak karena aku tidak bisa balas naksir padanya. Yang kedua dari Chella, dia adik sepupuku yang berada di Palembang sekarang. Yang ketiga dari Ayahku, kurasa beliau masih sempat mengetik beberapa kata untuk putrinya yang sedang hura-hura dimalam tahun baru, lebih tepatnya nimbrung hura-hura, karena aku tidak merasa hura-hura sama sekali sekarang. Dan yang terakhir dari Ian, "tumben dia sms aku." dalam hati berkata.
"Bukannya tadi bilang dibanguni jam 11?." Kata temanku yang sedang menyetir dan melihatku lewat spion depan. Aku mengangkat bahu.
"Ngecek sms." Kataku singkat sambil menggoyangkan ponselku kearah spion. Kembali pada inboxku. Kubuka pesan pertama, dari Tomi. Pesan itu berbunyi,

"Aku sudah menonton film Anne Frank, bagus sekali. Yah.. seperti yang kau bilang. Lagi dimana sekarang? Tahun baru sama keluarga?" Aku menghela nafas dan menjawab pesan itu. 

"Baguslah.. semoga kau dapat pelajaran dari kisahnya. Aku lagi tahun baru diluar sama temen-temen." Kupencet Send. Dan pesanku terbalas. Pesan kedua dari suadara sepupuku Chella.

  "hai.. sudah ngecek email? Aku ada kabar tentang penerbit, kurasa kau harus melihatnya. Kau bisa segera diskusi dengan penerbit soal bukumu." Aku menjawab dengan semangat.

  "Akan kucek nanti setelah pulang dari acaraku. Terima kasih ya. Selamat tahun baru, salam buat keluarga." Kupencet Send dan pesanku terbalas. Pesan ketiga dari ayah.

  "Pulang jam berapa? Ibu menyisakan mie ayam untukmu, jangan pulang terlalu pagi. Ayah minta maaf soal kemarin lusa." Aku menatap keluar jendela. Butuh beberapa menit untukku membalas pesan ayahku.

  "Terima kasih untuk ibu, akan kuusahakan pulang sehabis jam 12. Lupakan ayah.. nanti kita bicara lagi." Kataku singkat, lalu pesan balasanku terkirim. 

 Pesan terakhir dari Ian. Kuambil nafas panjang. Dia sudah lama tidak menghubungiku, setelah tahun baru 2 tahun lalu. Ketika itu kita berebut mengucapkan selamat tahun baru, hingga akhirnya dia mengalah karena menurutnya, kata-kata "Lady's first" adalah kebanggaannya, konyol sekali. Tapi aku menghargai itu.

  "Kembang apinya banyak ya?." 

 Aku memencet tombol scroll bawah, tidak ada. Hanya itu saja pesannya? Aku tertawa tidak percaya. Kualihkan mataku menuju jalanan diluar. Kami terjebak macet diatas jalan layang, dari atas sini, aku bisa melihat banyak kembang api menyala keatas langit dari petak-petak rumah di Jakata. Ada yang berwarna merah, kuning, warna-warni, dan Ungu

"Aku baru tahu ada kembang api berwarna ungu" Aku menatap kembang api berwarna ungu, tapi warna itu hanya keluar satu kali dari 7 kembang api yang keluar. Kulihat ponselku dan waktu sudah menunjukkan pukul 23.15. Aku berhutang waktu dengan teman-temanku yang kusuruh membangunkanku pukul 11 tadi. Aku membalas pesan Ian. 

  "dan salah satunya berwarna ungu, aku tidak tahu ada kembang api warna ungu" Selama beberapa saat, ponselku bergetar. Ian membalas. 

  "Kau beruntung, aku hanya melihat warna merah disini." Aku tersenyum. 

  "Adil, warna ungu itu hanya sekali keluar." Ian membalas lagi. 

  "35 menit lagi." Aku mengecek jam di ponselku. 23.25. Kutunggu hingga menit menunjukkan tepat pukul 23.30 lalu kubalas pesan Ian. 

  "30 menit lagi." Ponselku bergetar, ada pesan baru. Tapi bukan dari Ian. Kubiarkan pesan itu, aku hanya menunggu pesan Ian. Ponselku bergetar lagi, dari Ian. 

  "23 menit lagi. Ada permintaan?." Aku tersenyum. Memikirkan apa yang harus kubalas dari pertanyaannya. 

"Aku ingin kau kembali." pikirku dalam hati. Tapi itu tidak mungkin, aku tahu dia sudah bersama wanita lain. Aku kembali menatap jalanan diluar, kami sudah keluar dari kemacetan. 

Aku ingat bagaimana pembicaraan kami ketika 2 tahun lalu di tahun baru yang sama. Dia berkata dia menyukai seseorang yang memiliki inisial huruf depan dari namaku, aku tahu bisa saja ratusan orang Indonesia, bahkan belum termasuk orang luar Indonesia. Tapi dia mengenalku, aku mengenalnya. Kami mengenal satu sama lain sama baiknya seperti sepasang kekasih. 

  "13 menit lagi." Balasku.

Ian tidak membalas pesanku lama sekali. Bahkan ketika aku mengecek jam, pukul sudah meunjukkan tepat di 23.56. 

Aku rindu padamu.

 Itulah yang ingin kukatakan. Mungkin balasanku yang mengatakan 13 menit tadi adalah peringatan bagi Ian bahwa aku tidak ingin membahas tentang keinginan, dia menghargaiku, dia tahu aku bagaimana. Dalam hati aku hanya bisa merengut, aku tidak akan bisa berhubungan dengan dia seperti malam ini, melalui pesan. Ponselku bergetar lagi. Kubuka ponselku cepat-cepat, Ian

  "3 menit lagi. Aku minta maaf" Air mataku membendung. 

Aku tidak tahu mengapa, hati ini sakit sekali. Ingin rasanya mendatanginya dan menyuruhnya mengatakan itu tepat didepanku, seakan aku membencinya. Tapi tidak, aku tidak pernah membencinya, aku merindukannya.  

"2 menit. Aku tahu." Jawabku singkat. 

Kini air mata itu turun tepat ketika aku menoleh melihat langit diluar. Ponselku bergetar. 

  "58 detik. Terima kasih." Semua teman-temanku berteriak di mobil, jam detik didekat tape mobil menunjukkan.. 56,55,54,53,52,51,... 

Telingaku membendung. Seakan tidak ada suara yang terdengar, kutolehkan mataku melihat teman-temanku yang berteriak bahagia, meniup terompet didalam mobil, tertawa lepas. Hanya aku yang terdiam, aku gugub melihat detik. 42,41,40,39,38, .. Aku ingin keluar dari mobil ini. 

Apa yang terjadi denganku? 15,14,13,12,.. ponselku bergetar. 

  "Inisial itu, memang dirimu, selalu dirimu." Air mata ini turun dalam diam tanpa isakan diantara tawa dan bahagia ini. Entah aku harus bahagia, marah, sedih, terluka? 10,9,8,7,6,5,.. 

"Kau juga, selalu.." Kupencet send tepat ketika detik menunjukkan pukul 00.00.

 
"Selamat tahun baru.."

Kataku dalam bisikan.

Fiksi

Sabtu, 31 Maret 2012

Aku berjalan disuatu sore saat itu. Benda yang kubawa hanya 3, mantel plus pakaianku, sepasang sepatu bootku, dan badanku yang dengan tidak sengaja ikut dengan kedua benda yang kusebutkan tadi. Entah kenapa apa yang harus kubawa, seperti jam tangan, ponsel, dompet, bahkan ikat rambut hanya akan membuat diriku makin lengkap ketika sedang pergi. Tapi tidak hari ini, aku ingin pergi dengan diriku apa adanya. Bahkan aku tidak membawa uang sepersen pun.
Titik-titik hujan masih membasahi permukaan tanah aspal dikakiku, tetesan sebesar kacang masih membekas di muka daun yang hijau. Sesuatu membawaku pergi hari ini. Aku merasa lemah, ini bukan tentang sakit, lebih spesifik sakit fisik, mentalku lah yang bermasalah. Bahkan aku berani mengakuinya jika boleh, karena memang, sesuatu menumpahkan air sedingin es keatas kepalaku. Buatku sadar bahwa aku harus bangun dan melihat diriku apa adanya.
Setiap orang memiliki kelebihan masing-masing bukan? Pintar, cerdas, genius, rajin, malas, bodoh, kreatif, dll. Tapi bagiku, aku bahkan tidak tahu apa kelebihanku. Kuurungkan niatku untuk tidak batuk, terdengar aneh jika begitu. Seakan didalam diriku ada dua orang sedang berbicara, sedangkan mulutku tetap diam, tapi hati dan telingaku mendengarnya.
Ketika kutolehkan kepalaku ke arah kiri, kulihat anak kecil sedang mengelus-elus perut ibunya yang sedang mengandung. Sambil tersenyum sedikit, aku menoleh kearas kanan, seorang ayah membelikan ice cream pada anak laki-lakinya yang sedang bermain bola, lalu mereka bersulang ice cream bersama, hingga puntung ice cream si anak hampir jatuh. Aku tersenyum kecil. Kuturunkan kepalaku kebawah, menatap tanah tempatku berdiri. Lalu mataku menatap depan. Seorang pelukis sedang menggambar danau didepannya, banyak orang lalu lalang menatap lukisan di pelukis yang hampir jadi. Kuperhatikan lukisan itu dari arahku berdiri. Sambil menarik nafas aku berjalan menuju pelukis itu.
Dia adalah seorang bapak tua yang rambutnya hampir berubah, dia memakai kaca mata persegi hitam yang berganggang tebal, dia mengamati detail kanvas hingga matanya hampir tidak kelihatan dibalik kaca matanya. Kuasnya yang besar dia celupkan pada gelas kecil dimeja disebelah kiri kanvas. Dia menaruh paletnya lalu mengambil sapu tangan di kantong jaketnya lalu mengelap cat merah dikanvasnya, sedikit sekali, lalu dia masukkan sapu tangannya. Ketika aku keheranan, aku mencoba melihat meja kecil itu dan menemukan beberapa lusin tisu bersih yang rupanya, belum tersentuh sama sekali.
"Lukisan Anda bagus Tuan." Ujarku memecah konsentrasinya. Dia menoleh padaku, mengatur kaca matanya lalu menyipitkan matanya, mencoba mengingat wajahku.
"Aku tidak mengenalmu. Tapi, terima kasih. Ini belum selesai." Ujarnya panjang. Aku mengangkat bahu.
"Aku bisa mengerti." Kataku singkat. Bapak tua itu mengangkat alis, dia tidak mengerti ucapanku.
"Dari cara Anda melukis sedetail itu, dan sapu tangan Anda untuk mengelap cat yang salah padahal ada tisu yang jaraknya tak jauh dari tangan Anda. Anda sangat..." Dia menunggu.
"Konsistan." Kataku melanjutkan. Dia tersenyum kecil lalu mengambil kuasnya lagi dan menceburkan rambut kuas di gradasi warna hijau di palet.
"Sudah berapa lama kau berdiri disitu anak muda? Belum ada yang berani mengomentariku seperti ini sampai hari ini." Katanya sedikit tertawa. Aku menggaruk kepalaku lalu berkata.
"Maafkan Saya." Ujarku polos. Dia menaruh kuasnya lagi di gelas lalu mengambil kuas kecil dan menceburkannya di gradasi warna kuning. Mataku mengawasi setiap gerakan lunglai bapak ini, bagaimana caranya memegang kuas, bagaimana caranya dia mengolah tangannya hingga lukisan menyerupai bentuk aslinya. Ketika mataku memandang pemandangan didepan kanvas, pohon-pohon yang hijau, sungai licin berwarna biru tua, bunga lotus yang berwarna putih pekat, perahu berwarna coklat, tunggu. Ketika mataku memandang lukisan, kurasa ini bukan kesalahan.
"Anda mewarnai pohon dengan warna biru?." Kataku bertanya. Aku hanya bisa menyimpulkan hal bodoh, aku baru tahu seorang pelukis seorang buta warna.
"Aku lebih suka memakai versiku sendiri." Ujarnya singkat. Aku masih tidak percaya. Seharusnya Biru adalah warna untuk danaunya, sedangkan dilukisan, danaunya hampir menyerupai warna pukit pekat, warna lotusnya. Perahu berawarna coklat kekuning-kuningan dan sungainya berwarna merah gradasi indah hingga mendekati merah muda. Jika dilihat, lukisan ini tidak begitu buruk, malah aku menganggapnya bagus, tapi warnanya, warnanya tidak sesuai.
"Apakah versi Anda, warna air adalah putih pekat?." Kataku polos. Dia terdiam sebentar.
"Didalam versiku, sesuatu yang nyata bisa menjadi kebalikannya." Ujarnya singkat. Aku berpikir sebentar.
"Anda penyuka fiksi?." Kataku menyimpulkan. Dia tertawa.
"Kita semua menyukai fiksi anak muda. Itu yang membuatmu berdiri disini sekarang." Katanya. Aku terdiam, menunggu. Dia menaruh kuasnya lalu berbalik kearahku.
"Apa alasanmu kemari?." Katanya bertanya.
"Aku bosan." Kataku singkat.
"Kalau begitu mengapa tidak dirumah, membaca buku atau menonton tv?."
"Terlalu membosankan."
"Hm.. hidup memang kadang membosankan. Bahkan untuk anak seusiamu yang jauh lebih segar daripada diriku." Aku masih berpikir.
"Itukah maksud Anda? Fiksi tidak membosankan?."
"Fiksi adalah sesuatu yang tidak sengaja ada, bahkan diciptakan, itu diciptakan untuk kesenangan. Fiksi itu indah, itu membuatmu membayangkan sesuatu yang bahkan belum pernah dibayangkan orang lain. Bahkan bisa menjadi pengingat yang abadi." Katanya. Aku terdiam. Aku menyukai fiksi, bagaimana orang ini tahu aku penyuka fiksi? Bagaimana dia tahu alasan aku berdiri disini sekarang karena aku merasa tak berguna karena tidak punya kelebihan apa-apa? Atau aku memang tidak menyadari dari awal?
"Aku ingin jadi penulis." Kataku. Dia menghentikan lukisannya. Menungguku.
"Aku merasa bodoh saja, rasanya itu bukan hal yang akan diterima siapapun." Kataku lurus. Kucoba utarakan semua.
"Aku ingin orang mendengarku, aku ingin orang menyukai tulisanku, bahkan walau mereka tidak menyukaiku, itu tidak masalah, setidaknya mereka mengenalku melalui.. karyaku." Kataku pelan. Dia menoleh padaku lagi.
"Cobalah membuka dirimu, aku yakin fiksi dimatamu tidak akan beda dimata mereka." Ujarnya. Aku terdiam. Berpikir sebentar. Mungkin aku tidak sepintar orang-orang yang kukenal, aku bahkan termasuk bodoh, aku tidak bisa melakukan apa yang mereka lakukan. Tapi aku memiliki sesuatu yang bahkan tidak bisa dimiliki mereka, seperti aku yang tidak bisa memiliki apa yang mereka miliki. Aku merasa terbuang, tertinggal, tidak diperhatikan siapa-siapa, aku seperti makhluk kecil diantara mereka. Kurasa bukan masalah jika aku mencoba, toh sesuatu yang tidak nyata suatu saat akan menjadi nyata. Seperti Fiksi.
Aku tersenyum, seakan mengucap terima kasih pada pelukis ini. Dia tersenyum padaku pula. Setidaknya hari ini aku bisa mengerti mengapa mentalku sedikit terganggu, aku butuh teman yang sama dunianya sepertiku, seperti pelukis ini. Dia menutup lukisannya dengan tanda tangan kecil di kanan bawah lukisannya. Dia manaruh palet, kuas dan pelaratan lainnya seraya aku membantunya. Dia berdiri dan berkata padaku sebelum pergi.
"Setidaknya, meski mereka belum mengenalmu, aku akan menjadi orang pertama yang akan membeli bukumu. Kurasa tidak buruk membaca ceritamu sambil melukis wonderland." Ujarnya. Aku tertawa lepas, begitu juga dengan dia, si pelukis genius.

Carousel

Sabtu, 10 Maret 2012

Sesuatu tertinggal ketika aku menatap matanya. Dia mungkin sama dengan sekian orang yang pernah menatapku ketika aku bicara, tapi tidak benar-benar tanpa kuketahui. Jika aku menyadari dia berada tak jauh dariku, aku mancari wajahnya, memandangnya hanya sekian kali dalam beberapa detik. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk sekedar melihat apa dia benar-benar ada, benar-benar disana, berdiri didekatku. Aku membaca sesuatu dalam diri ini, dia bagai kamar kosong yang pernah kumasuki, kutinggali, dan dia bersamaku disana. Semua berubah ketika kami memutuskan meninggalkan kamar itu, pergi menjauh dan berlawanan arah. Kau menemukan hidupmu, begitu juga diriku. Kini kami hanya bisa saling menatap, melihat dalam-dalam mata itu, mengingat bahwa kami masih menyimpan kamar itu. Jauh di dalam mata kami.
Tapi sesuatu menghalangi kami untuk membuka kamar itu. Sesuatu menarik kami, magnet yang sudah terikat dengan diri ini. Ini bukan tentang bukan bagaimana cinta kami tak bisa bersatu, ini tentang bagaimana kami masih belum menyelesaikan sesuatu yang tertinggal, bahkan hati ini tak akan bohong jika berpuluh manusia telah singgah dihati ini, jika ada seseorang, maka dialah yang satu-satunya, bagaimanapun caranya. Seseorang berkata, "lebih baik tidak mengenalkan.. itu jauh lebih baik.." tidak bagiku. Kau bahkan yang membawaku hingga saat ini, bediri berdampingan dengan seseorang yang bahkan tak terbaca ketika aku masih bersamamu. Hidup dan cinta bukan sesuatu yang salah, hanya saja terlalu dini jika kita memahami terlalu dalam. Terkadang aku hanya bisa terdiam, mengingat dan melihat mata itu. Aku bahkan pernah melihat mata itu lebih lama dari sekarang, lebih dan memahami bagaimana diriku dari caramu menatap mataku. Mungkin sesuatu yang berputar tak akan bisa dibalikkan kembali..
Ini malam ketiga ketika aku keluar rumah sendirian. Menunduk menahan terpaan angin, kumasukkan kedua tanganku di saku jaket, kutudungkan jaketku, mencoba melindungi rambutku agar tidak berantakan. Kakiku melangkah, menatap kedua kakiku yang saling bergantian melangkah. Mataku tidak memandang arah jalanku, aku hanya melangkah tak tahu kemana kaki ini membawaku, aku sudah hafal jalan ini, kurasa bukan masalah besar bagiku. Sesuatu bergetar di saku jinsku, pnselku, tentu saja. Aku belum mengabarinya sejak tadi siang. Kubiarkan saja, moodku sedang ingin sendiri saat ini.
Suara musik karnaval berbunyi ketika aku sadar aku sudah sampai di sebuah taman karnaval yang terang dan ramai. Aku tidak ingin berada di tempat ramai, seperti kubilang, moodku sedang buruk. Tapi entah mengapa kaki ini melangkah memasuki taman bermain itu. Banyak anak kecil berlarian membawa kembang gula, bermain panah air, ada beberapa sepasang kekasih membawa boneka kecil yang berpasangan. Aku berjalan, melihat-lihat setiap tempat dan sesekali berhenti dan memperhatikan setiap orang bermain. POnselku bergetar lagi, kuambil \ponsel ini lalu kubaca pesannya. "Aku pergi sebentar, nanti kutelpon.." itu bunyi pesan pertama, dan yang kedua "ibumu menelponku, kau dimana?". Aku tertegun, kurasa bukan tindakan yang baik membuat orang tua berpikir ini sudah ketiga kalinya aku keluar sendirian. Aku mengetik tombol dan menulis "aku di taman karnaval, biar aku yang menelpon ibu, aku baik-baik saja.." lalu kumasukkan kembali ponselku.
Kulangkahkan kakiku lagi meninggalkan tempat diriku berdiri tadi. Ditengah tempat karnaval terdapat tempat kosong seperti rumah yang hanya sebesar aula dan hanya ada beberapa orang yang hilir-mudik memasuki tempat itu, kebanyakan adalah sepasang kekasih. Aku memasuki tempat itu dan melihat ruangan bulat dengan kaca yang menutupi sebuah permainan menyala berbentuk bundar, komidi putar. Aku melangkahkan kaki memutari tempat itu, pintu untuk memasuki komidi putar sedang ditutup. Aku berdiri didepan pintu, menatap komidi putar itu. Lampu-lampu dari setiap senti komidi putar itu menyala, bahkan cat dari patung-patung kuda itu masih mengkilat. Dalam hati aku berpikir, kapan terakhir kali aku menaiki mainan ini, mungkin ketika aku masih berumur 5 tahun. Sambil mengangkat alis aku terdiam.
Ketika kupandangi tempat ini dengan seksama, aku menyadari seseorang berdiri disana. Sendirian menatap komidi putar, dia menggenggam ponselnya. Dia disana, sedang melamunkan sesuatu, entah apa, atau menunggu siapa. Tidak ada satupun adrenalin bagiku untuk menghampirinya, menyapanya, ataupun tersenyum. Aku tetap berdiri ditempatku, menatap komidi putar didepanku, begitu juga dia. Aku hanya bisa berkata dalam hati, kami berdiri terlalu dekat, tidak seperti biasanya, kami biasanya hanya bertemu sedekar menatap mata lalu pergi. Jika aku menoleh padanya, aku memiliki beberapa angka persenan kepastian bahwa dia pasti akan menoleh padaku juga. Tapi tidak, seharusnya aku senang bisa bertemu dengannya, bicara padanya, tertawa dan menanyakan kabar. Tidak untuk sekarang. Aku bahkan menurunkan alisku, aku sedih. Sesuatu membuatku tetap berdiri disini, dan aku yakin, jika dia tahu aku disini, mungkin dia juga merasa, sesuatu itu juga menahannya untuk berada disana.
Komidi putar didepan kami tetap terdiam, tapi entah kenapa diriku seakan berputar. Seakan kami tidak mengenal satu sama lain. Inilah yang terjadi, aku menahan hati ini untuk bicara, aku biarkan kamar ini tetap tertutup dan kubiarkan kunci itu kubuang entah kemana. Waktu tidak akan bisa kembali lagi, kami sudah berbeda, mungkin diriku yang berada disampingnya bagai orang lain, dan dia bagiku seperti orang lain juga. Seperti komidi putar, dulu kami menaiki tempat itu bersama, tapi kini, kami turun bersama dan meninggalakn komidi putar itu sendirian, tanpa seseorang yang menaikinya.
Seseorang meneriaki namanya dari kejauhan, aku menoleh dan melihat wanita itu membawa 2 kembang gula lalu memberikan satu padanya. Aku tersenyum kecil, lalu dari arah lain seseorang meneriaki namaku, aku terkejut lalu menoleh. Lelaki itu menghampiriku sambil berlari.
"Bagaimana kau tahu aku disini?" Kataku terkejut. Dia tertawa kecil, tetes-tetes keringat membasahi dahinya. Aku mengelap keringat itu dengan telapak tanganku.
"Feelingku bilang kau disini." Katanya sambil tertawa kecil. Aku tersenyum.
"Ayo pulang." Kataku sambil merangkul tangannya.
"Kau tidak ingin bermain sebentar?." Katanya.
"Tidak, aku janji ini terakhir kali aku keluar sendirian malam-malam. Kau mau berjanji sesuatu?." Ujarku.
"Apa?"
"Aku ingin kau yang menemaniku jika hal ini terjadi lagi." Kataku sambil tertawa kecil. Dia tertawa lalu kamu berjalan.
Sesuatu membuat diri ini membalikkan kepala dan menoleh kebelakang, dia berjalan ke arah berlawanan denganku seraya menggandeng tangan wanita itu. Wanita itu tertawa lalu menyendenkan kepalanya di pundaknya. Aku kemabali menatap depan dan tersenyum sendiri, kurasa sesuatu yang tertinggal itu adalah kunci dari pintu ini. Tapi kubiarkan kamar ini kosong, karena aku tahu pintu ini tak akan terbuka lagi, dia tak akan pernah datang, dan aku pun tak akan membukanya lagi untuknya. Kami sudah jauh, dan aku bisa memahami itu.
...di tempat lain. Lelaki itu menoleh pada wanita yang berjalan dengan lelaki disebalahnya. Dia diam lalu menatap wanita diselahnya dan tersenyum.
Komidi Putar itu tetap diam diantara mereka..

Thank You 2011, Welcome 2012

Minggu, 01 Januari 2012

Ini bukan tentang bagaimana kita belajar dari hal yang pernah kita lalui. Ini tentang gimana kita membabarkan gambar-gambar perilaku kita dulu, sekarang dan gambar kosong yang kita siapkan untuk hari esok. Aku ngerti kenapa banyak orang tua memberi kita gambaran kalau dunia ini terlalu besar, tapi kita tidak boleh merasa kecil, justru karena kita kecillah kita bisa melihat semuanya begitu besar. Kita mau berusaha dan mau tahu sejauh mana mata kita melihat dunia. Gampangannya, bayangin aja dunia ini besar dan manusianya besar-besar juga, serem kan? Yah jangan dipikir seremnya juga, kita cuma punya setidaknya sejengkal jarak buat ngeliat semua. Sempit banget, makanya Tuhan menciptkan kita kecil, karena kita ditugaskan untuk terus mencari tahu, terus berusaha, terus mengagumi kebesaranNya.
Dari tahun ke tahun tentu kita tahu, kita semakin dewasa. Kita semakin tahu mana baik mana benar, mana jalan yang harus dipilih, mana jalan yang harus ditinggalkan. Kembali lagi, ini semua tentang bagaimana "KITA". Kita yang lalui, kita yang jalani.
Semua orang punya harapan buat kedepannya. Ada yang mau langgeng sama pacarnya, ada yang mau rejekinya dilancarin, ada yang mau dikasih umur dan kesehatan yang panjang, dll. Semua pingin yang terbaik untuk diri mereka. Mau gak mau kita memang harus punya harapan, setidaknya ada mind mapping untuk hidup kita kedepannya.
Dan yah.. kita memang masih dikasih umur sampe penutupan 2011. Terima kasih Tuhan, aku bener-bener berterima kasih buat semua yang Kau beri padaku di tahun 2011. Buat keluarga, temen-temen yang jauh sampe yang deket, dan khususnya buat AP terima kasih. Bersyukur buat semua cobaan dan kebahagiaan yang uda dikasih. Terima kasih 2011 untuk semua kenangannya :)
Semoga Tuhan masih memberi yang terbaik sampai penutupan 2012 nanti, amin :)
Happy New Year!

Don't Go..

Sabtu, 24 Desember 2011

Ini jelas bukan kabar baik. Melihat mereka membicarakan sesuatu dari jauh, aku hanya bisa terdiam ditempat, kakiku kaku untuk melangkah menghampiri mereka. Aku menunduk, tersenyum sendiri, lalu perbalik pergi. Kau pantas menamparku dengan cara seperti ini, aku bahkan tidak merasakan pipi ini lebam, tapi hatiku lebam. Kau menampar hatiku. Aku merasakan suara sepatu high-heals ini berbunyi ketika aku melangkah keluar bangunan ini. Menelan ludah sebentar, lalu aku berjalan meninggalkan tempat itu. Rasanya sakit sekali, membayangkan semuanya begitu sempurna, tapi menjadi retak seketika. Aku ingin lari dari mata mereka, aku ingin hilang, biar mereka bahagia tak ada seseorang yang akan menganggu putra mereka. Aku jelas memilih hal itu apabila orang tuaku tidak disini. Tapi aku tahu, aku tak akan pernah bisa lari. Suara langkah kaki mulai mendekat, seseorang menyentuh pundakku, sentuhannya lembut, aku berbalik melihat siapa dia. Dia terengah-engah, menatapku dengan dalam.
"Kenapa pulang?." Ujarnya. Aku menatapnya, berusaha meluruskan wajah ini. Kau tak boleh menangis didepan dia. Pikirku dalam hati.
"Maaf, Ibuku telfon berkali-kali. Aku pikir ada sesuatu yang terjadi.." Kataku memohon. "Maaf.." Kataku lagi. Dia menatapku, wajahnya sendu.
"Kau setidaknya bicara padaku.." Katanya setengah tertawa. Atmosfer diantara kami jelas beda, kami sama-sama menenangkan situasi ini.
"Aku pikir kau sedang sibuk, aku tidak ingin menganggumu. Sungguh.. kau terlalu baik.." Kataku terbata-bata.
"Aku antar pulang ya?." Aku terdiam. Jantungku berdegub keras. Aku ingin bersamamu, dalam hatiku berteriak begitu. Hati ini sesak. Ada sesuatu yang kutahan dan tak boleh kukeluarkan. Aku menahan pikiranku.
"Aku bisa pulang sendiri. Mungkin ayahku akan menjemputku. Aku akan menelponnya sebentar lagi.." Kataku sembari tersenyum tenang. Memasang tampang sebiasa mungkin. Aku tak ingin dia tahu aku tlah membendung air mata ini sepersekian detik selama percakapan ini berlangsung. Dia menatapku dengan tenang, aku menatap matanya. "Ya Tuhan.. aku bahkan tak akan pernah berniat membuat mata itu menangis.."
"Kau yakin tidak apa-apa?." Katanya. Aku tertawa kecil.
"Kau menghinaku?." Kataku lagi, menaikkan satu alis. Topeng yang sempurna. Dia tersenyum. Maka aku tersenyum.
"Aku akan baik-baik saja." Kataku meyakinkan. Dia menarikku dan memelukku. Aku merasakan hembusan nafasnya membuat rambutku bergerak lembut. Entah bagaimana, aku tidak bisa membendung air mata ini lagi. Kubiarkan air mata ini keluar sebentar. Ya Tuhan.. aku sayang padanya. Entah apa yang bisa kulakukan bila aku tak bersamanya lagi. Entah apa yang bisa kupikirkan selain dirinya. Biarkan kami terus begini.. AKu membuka pelukan kami. Dia mengecup lembut dahi ini. Aku menutup mata dan menghayati ini semua. Lalu dia melepas genggaman tangan ini pada tubuhku. Aku tersenyum lalu pergi darinya. Aku tak akan menoleh.. tidak.. Air mata ini jelas keluar tanpa aku memulainya. Aku tidak ingin mencari sesuatu yang bisa melukai orang yang kusayang. Jika ini berakhir.. maka aku akan membiarkan dia pergi. Aku tak akan pernah ingin pergi.. aku akan selalu disini..

Can you feel it?

Senin, 28 November 2011

Aku melangkahkan kaki dengan mantap, aku tau hari ini akan menjadi luar biasa. Tanganku mengepal erat, aku gugub untuk pulang. Ini bukan pertama kalinya aku gugub pulang kerumahku, ya rumahku. Bagaimana mungkin aku gugub kerumahku sendiri? Terlalu banyak kisah didunia ini, ya kan? Aku membuang semua resah dan gelisah, yang aku mau saat ini adalah, aku ingin pulang. Bertemu ayah dan ibuku, saudaraku yang setiap harinya tak pernah kudengar kabarnya. Ibuku selalu bilang, "Mereka sedang bermain.." atau "belum pulang sekolah.." malah parahnya "Mereka sedang sibuk..". Aku tahu itu alasan sempurna untuk tidak bicara denganku, aku tertegun pasrah mengingat hal itu. Ketika kaki ini mulai melangkah kaki menuju belokan, gemuruh petir mulai bersuara dari atas, awan mulai gelap dan angin berhembus liar melewati rambutku. Hujan akan turun sebentar lagi, aku senang sekali hujan, air yang menetes-netes dan bau air menyentuh tanah. Aku selalu merindukan suasana ini. Kucoba tersenyum sebentar. Sesekali kulihat anak-anak kecil berlarian melewatiku, mereka pulang memasuki pintu rumah mereka, ibu mereka menunggu dengan setia, ada yang tersenyum ada yang marah dan ada yang langsung memeluk mereka. Keluarga adalah tempat pertama, dan akan menjadi tempat terakhir yang paling tenang didunia. Mataku sedikit membendung, aku rindu ibuku, aku rindu ayahku yang selalu setia memberi kuliah malam ketika kami melihat acara TV tentang pendidikan. Ayahku adalah orang paling genius yang pernah kutemui, dan dia nyata. Bukan seperti J.K Rowling atau Albert Einsten yang aku kenal dari karya-karya mereka, tapi ini nyata, aku melihat sinar matanya ketika dia bicara tentang sesuatu yang luar biasa tentang planet bumi, tentang ciptaan Tuhan. Dan ibuku, dia adalah wanita terbaik, aku tau dibalik setiap marahnya ada sesuatu yang kami sebut "cinta". Jika dibayangkan, seorang ibu tidak akan membiarkan sesuatu melukai anak-anaknya, dan suaminya. Aku ingin seperti dia kelak. Mereka berdua adalah segalanya, aku tidak ada arti apa-apa dimata orang lain, tapi dimata mereka, aku adalah segala-galanya. Titik-titik hujan mulai turun, membasahi jalanan yang kering, bau air bertemu tanah mulai tercium, rambutku mulai basah, baju dan tasku kurasa sudah diujung tanduk, aku benar-benar basah kuyub. Beberapa langkah lagi aku sampai, petir menyambar dengan kerasnya. Aku ingin masuk rumah, diluar dingin sekali. Aku berlari menuju rumahku yang mulai terlihat diujung mata, entah kenapa aku benar-benar bersemangat, sebentar lagi aku aman dari hujan ini, rumahku sudah menungguku. Kubuka pagar dan menaruh tasku yang berat, kuangkat buku-buku jariku dan hampir mengetok pintu ketika sesuatu yang lebih menyengat membakar telingaku. Sesuatu yang lebih parah dari petir yang kudengar diluar. Tangan ini hampir setengah senti lagi menyentuh pintu, kubiarkan diriku mendengar apa yang terjadi didalam.
"...kau tidak tahu apa-apa!!." Ucap seorang lelaki biacar, ayahku.
"Aku kurang apa?!." Bentakan campur isak tangis membalas, ibuku menangis.
"LIHAT AKU!!." Ucap ibuku lagi dalam raungan.
"Dia akan pulang sebentar lagi!." Ucap ayahku.
"Biar dia dengar! Dia tahu! Harus diselesaikan malam ini!..." Ibuku menjawab Sesuatu bagai merobohkan bangunan yang kubangun ketika aku membayangkan bagaimana rasanya pulang, aku masih terpaku. Tidak tahu harus berbuat apa. Aku tersadar, "Dimana adik-adikku?." Aku berjalan menuju jendela. Melihat tanda-tanda mereka disuatu ruangan. Ketika aku melihat jendela yang lampunya dimatikan, aku mengintip sedikit, adik-adikku sedang duduk berdua. Terdiam tak berkata, aku tidak tahu apa yang mereka lakukan, entah menangis, entah menunggu. Air mata ini jatuh seketika, aku ingin membawa mereka keluar. "Tolong Tuhan.. Mereka masih sangat kecil, lakukan sesuatu.." Doaku dalam hati. Aku tidak berharap mereka melihatku, aku mundur dari tempatku. Inilah yang terjadi, aku selalu lupa bagaimana diriku yang sebenarnya. Seseorang pernah berkata padaku, Rumah adalah tempat yang selalu menjadi kunjungan terakhir bagimu, dan itu adalah tempat yang menciptakan suasana hati yang tenang dan akan selalu membuatmu rindu ingin pulang. Aku selalu ingin pulang, tapi tidak dengan kenyataan yang seperti ini. Aku berlari keluar pagar, kutinggalkan tasku tersender di tembok dekat pintu. Aku berlari, membiarkan dadaku, nafasku, isakku bercampur jadi satu. Aku tidak tahu kemana kaki ini melangkah, hujan ini masih berguyur deras membasahi tubuhku, rambutku, wajahku. Air mata dan hujan bercampur jadi satu di wajah ini. Kau tahu bagaimana rasanya menangis dengan keadaan seperti ini? Apakah kau pikir kau tenang dengan hujan ini, dan lega? Tidak bagiku. Aku sakit, benar-benar sakit. Aku butuh mereka yang tahu apa yang terjadi padaku, aku butuh payung yang menutupiku dari jarum-jarum air ini, aku butuh pelukan untuk hangatkan hatiku yang dingin, aku butuh seseorang membisikkan sesuatu yang buatku sadar bahwa aku sedang dalam cobaan. Dan hal paling menyakitkan dalam berharap adalah, kau hanya bisa membayangkannya, dan terjadi tidak terjadinya harapan itu, kau hanya bisa menerima. Tidakkah hidup terlalu sulit? Aku berhenti dari lariku, aku tidak tahu persis dimana aku berada, air hujan ini benar-benar menutup semua yang ada didepannya. Aku terdiam, membayangkan diriku yang bahagia. Menyakitkan sekali membayangkan sesuatu yang berlawanan dengan apa yang terjadi sebenarnya. Aku sadar, apa yang kubayangkan seakan cerminan diriku dari bayangan. Bayangan adalah semu, bohong, pantulan bias yang sempurna. Dan aku melihat diriku yang jauh berbeda dengan diriku yang sebenarnya. Aku benar-benar berantakan, aku tidak tahu harus kutaruh mana lingsutan kekesalahn, emarah, benci, dan takut ini, aku tidak tahu harus kemana lagi kaki ini berlari, aku tidak tahu harus kepada siapa lagi aku bersandar. Orang yang kupercaya telah jauh, jauh dari diriku yang berdiri disini. Aku butuh mereka.. Sangat butuh..

Mask

Selasa, 08 November 2011

Udara tak sedingin yang kukira. Mantel buluku tak mampu melindungi tubuhku yang terbuka. Laju kereta kuda buatku bosan duduk di kursi empuk hingga menunggu tiba di acara. Ibuku hanya bisa sesekali meilirikku tanpa bicara. Dan sejujurnya akupun tak segan-segan harus bertanya mengapa. Aku bosan bicara. Membuang waktu. Begitulah aku..

Sinar lampu mulai menghiasi jendela-jendela kereta. Dan yang paling indah, sebuah istana megah berdiri tak jauh dari tempat keretaku berjalan. Suara langkah kaki kuda makin cepat. Dan anehnya, jantungku mulai memburu. Aku tak pernah suka pesta. Aku benci berdandan. Memakai gaun panjang dan sepatu indah yang hiasi kakiku. Tapi ini pesta istimewa. Keluargaku diundang acara perayaan putra sulung keluarga istana. Ayahku adalah perdana menteri jadi tak heran aku haru diundang di acara kerajaan ini. Acara pertunangan sang Pangeran. Aku tak begitu peduli. Rupanya rasa tidak sukaku pada pesta diketahui ibuku. Ia membantuku penggunakan gaunku yang sejujurnya, memang indah dan mewah.

"Kau cantik." Kata ibuku memandangku lewat cermin. Ku pandang wajahnya hingga tubuhku yang berselimut gaun satinku. Aku hanya bisa menggeleng, tidak setuju.
"Nikmatilah malam ini sayang. Acara ini istimewa."
"Aku tak pernah bisa beradaptasi dengan hal semacam ini." Kataku mengingatkan.
"Hanya malam ini saja." Kata ibuku memohon. Aku hanya diam. Ia memberiku sebuah topeng berhias manik-manik indah. Bening dan mengkilat. Kata ibu, warna ini cocok dengan warna mataku. Ini lebih baik. Setidaknya, ada sesuatu yang bisa menutupi wajahku. Dan baiknya, ini memang pesta topeng. Benar-benar membosankan.
Kereta tiba di depan pintu istana, aku dan ibu turun dengan perlahan. Ibuku tersenyum padaku dan menuntunku berjalan memasuki aula. Ketika pintu terbuka lebar, aku hanya bisa mengambil nafas panjang. Banyak orang berbincang, tertawa, minum dan memamerkan oksesori mereka. Tapi sesekali aku sadar beberapa diantara mereka memandang ke arah kami. Entah apa yang dilihat mereka, tapi aku harap bukan Aku.
"Bisa kutinggal sebentar kan? Ibu ingin bicara dengan kenalan ibu." Kata ibuku tiba-tiba,
"Ya. Tentu." Kataku.
"Baiklah. Nikmati sebisamu." Kata ibuku dan ia berpaling menjauh.

Aku mulai berjalan. Kakiku gugub mencari tempat nyaman untuk diduduki. Ketika aku menemukan kursi kosong dekat balkon, kulihat seseorang berdiri sendiri disana. Seorang lelaki seperti sedang memandang sesuatu. Rasa lelahku untuk duduk hilang, ingin rasanya menemuinya dan melihat apa yang dilihatnya. Kaki ini rupanya bergerak tanpa aku harus menyuruhnya. Ketika aku sampai di balkon, ia sedang memandang ke langit diatas. Ia memakai topeng hitam perak dengan ukiran emas. Ia menoleh padaku, aku sedikit terkejut. Pandangan matanya hitam, misterius. Aku tetap diam di tempat. Ini salahku mengganggu ia sendiri.
"Maaf." Kataku seraya menelan ludah.
"Apa aku mengenalmu?." Katanya.
"Tidak. " Aku memutuskan omonganku. Ia menunggu.
"Maaf. Ini tidak sopan, aku tahu. Maaf." Kataku dan mulai berbalik meninggalkannya. Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku begitu gugub?. Aku bahkan tak berani menoleh padanya.
"Tunggu." Aku terkesiap diam ditempat. Hatiku mulai gugub. Ia bicara lagi.
"Kau tidak menggangu. Aku hanya sedang melihat bintang." Aku tetap diam dan tak membalikkan tubuhku padanya.
"Apa kau salah satu diantara tamu?." Aku mengambil nafas, dan berbalik padanya.
"Ya." Dia memandang mataku lama sekali. Aku tidak pernah diperlakukan seperti ini, atau bisa dibilang, aku akan langusng membuang muka jika ada seseorang menatapku sebegitu rupanya. Tapi aku tak ada niat membuang muka. Akupun memandang mata hitam itu, mata yg bening diantara batas-batas kelopak topengnya. Rupanya keheningan ini membuatnya sadar lebih dahulu dari aku.
"Apa kau bosan dengan suasana pesta ini?." Katanya seperti mengoreksi. Aku tertawa kecil mendengar pertanyaan itu.
"Maaf, aku memang tidak begitu suka dengan hal semacam ini."
"Oh. Bisa kulihat itu." Katanya seraya tersenyum.
"Kalau kau tak keberatan, mungkin kau mau melihat pemandangan dari sini." Katanya lagi seraya menatap langit luas diatas. Aku melihat arah yang ia lihat. Langit luas dan hamparan bintang terbantang indah diatas kita, seakan-akan karpet hitam menutup kami. Indah.. Luas..
“Aku belum pernah melihat bintang seindah ini.” Kataku memuji. Lelaki itu memandangku.
“Kupikir, diluar istana kau bisa melihat yang jauh lebih indah dari ini.” Katanya dengan tertawa.
“Ya, tapi singguh...” Aku berjalan maju manuju bibir balkon dan tetap memandang langit. “Ini sungguh indah.” Aku tidak menolehkan wajahku menatap lelaki dibelakangku. Aku benar-benar menikmati suasana ini.
Lama dalam keheningan..
“Aku tidak pernah menyetujui pertunangan ini.” Kata lelaki disebelahku, nada suaranya menerawang. Aku menolehkan muka padanya. Terheran-heran dengan apa yang ia ucap. Ia membalikkan wajah dan menatapku.
“Ini adalah acara pertunanganku.” Aku spontan menghindar darinya. Jantungku berdegub kencang, rasanya ingin lari dari hadapannya.
“Kau Pangeran.” Aku berkata pelan, hampir seperti bisikan. Ia tetap diam.
“Sejujurnya, gadis itu sangat cantik. Dia adalah keluarga kerajaan dari negeri seberang. Ia putri bangsawan, dia baik pada semua orang, awal aku bertemu dengannya. Aku pikir ia adalah malaikat yang diturunkah Tuhan. Dia amat.. Sempurna.” Aku menunggu.
“Tapi, aku tidak bisa mencintainya. Kau pun pasti berpikir ingin menikahi orang yang kau cinta kan?.” Katanya, dan ia memandangku. “Apa aku menakutimu?”
“Mungkin.” Kataku gugub. “Kau mungkin harus kembali memakaikan cincin di jari tunanganmu, sebelum ada seseorang tahu kau bersama orang lain disini. Maafkan aku.” Aku berjalan menjauhinya. Perasaan bersalah campur sedih menggerautiku. Tunggu, Sedih?.
Aku meninggalkan ia berdiri mematung. Sungguh aku tidak tahu apa yang telah kupikirkan. Kata-kata itu melantur begitu saja dari mulutku. Mungkin tidak sopan, tapi aku tahu aku sudah berbuat benar. Atau, aku yang salah?. Bagaimana mungkin aku tidak bisa menyadari bahwa ia adalah seorang Pangeran. Aku terhenti dari jalanku, sesuatu membendung mataku...
“Siera! Oh tuhan. Darimana saja kau?.” Ibuku terhuyun-huyun mendatangiku.
“Maaf, aku terlalu jauh berkeliling. Ibu, kau tak apa-apa?.” Kataku.
“Yah, tentu. Tidak sayang, ibu pikir kau melarikan diri karena....” Aku tersenyum.
“Kau menangis?.” Kata ibu lagi dengan pandangan mengoreksi. Aku terkejut, Menangis?
“Oh, tidak Bu. Aku tidak apa-apa.” Kataku meyakinkan.
“Baiklah.” Tampaknya ibu tidak yakin.
“Sebenarnya, para pengawal sedang berkeliling dengan gelisah. Dan sejujurnya, ibu sangat yakin acara ini seharusnya sudah daritadi dimulai. Tapi melihat keadaan, mungkin sang pangeran melarikan diri dari pertunangan. Ibu barusan mendengar bisik-bisik bahwa sang putri sedang cemas karena calon tunangannya hilang.” Aku terdiam.
“Bisakah kita pulang sekarang?.” Kataku memohon. Ibu spontan memandangku kaget.
“Tapi acara ini belum berakhir..”
“Baiklah aku saja yang pulang. Ibu tidak keberatan kan jika disini sendirian? Sungguh bu, ada yang harus aku lakukan.” Kataku. Jujur, aku begitu bodoh hingga aku cengeng begini. Tapi aku benar-benar ingin pulang. Ibuku tetap diam.
“Baiklah. Pulanglah. Bawa antar jemput kita, lalu suruh kembali..”
“Tidak bu, aku pulang sendiri saja. Sungguh aku tidak apa-apa. Aku membawa mantel. Ibu tak perlu khawatir.” Ibuku diam. Tapi aku sudah memasang tampang tidak betah sehingga ibuku mengambil nafas dan akhirnya mengangguk.
“Trims bu.” Aku segera pergi tanpa menoleh pada ibuku lagi. Dan ketika aku sadar aku jauh dari istana, tanpa aku harus aku memulai, air mata ini jatuh..

Thank You..

Jumat, 09 September 2011



“Aku tahu aku akan masuk neraka karena diriku yang sebenarnya.” Ujarnya dalam raut muka tanpa ekspresi. Aku menoleh dan menatap wajahnya dari samping. Lalu kembali menatap depan lagi.

“Mustahil orang sepertimu masuk neraka, terkadang orang yang buruk sekalipun menganggap mereka pantas hilang dari dunia ini. Tapi masih ada yang membutuhkanmu disini, seburuknya dirimu, kau berarti bagi orang lain.” Kataku. Dia tertawa kecil.

“Kau tahu apa ketakutanku selama ini?.” Katanya. Aku menoleh padanya lalu menggelengkan kepala.

“Sejujurnya, aku tidak takut dikucilkan, merasa dibuang atau dilecehkan karena diriku ini, aku merasa pantas diperlakukan begitu..”

“Lalu?.” Dia mengambil nafas panjang lalu tersenyum.

“Aku takut mengecewakan orang-orang yang menyayangiku, mereka yang mengharap lebih dariku.” Dia berkata lirih. Aku terdiam..


-PAP-


Kau tahu bagimana menjadi orang paling beruntung didunia? Beruntung bukan hanya karena kau mendapat kekasih yang baik, tampan, cantik, sempurna. Atau orang tua yang kaya yang bisa memberimu apapun yang kau mau hanya dengan menunjuk jarimu saja. Atau kepintaran tiada tara, kau memiliki ratusan piala hasil dari kecerdasanmu, kau memiliki kepaindaian yang sempurna. Bahkan paras yang bisa membuat semua orang tertunduk dengan kesempurnaanmu. Tidak.. itu bukan “keberuntungan”, itu adalah pemberian.
Tuhan memberi itu semua untuk bisa dibandingkan dengan pemberian orang lain yang kurang dari kita. Terkadang orang-orang yang memiliki itu semua orang yang merasa lebih tinggi dari orang lain. Orang yang tak perlu memandang cerminan mata orang lain selain dirinya.



“Kamu tau apa yang aku mau dari Ayahku?.” Ujarnya dalam genangan air mata.

“Aku cuma ingin dia mengerti kami disini. Aku, mama, adek. Kami masih disini, kami masih menyayangi dia..” Aku meneteskan air mata. Aku tahu dia rapuh, begitu juga aku. Kami sama, dunia ini kadang tidak adil bagi orang seperti kami.

“Kenapa harus kita ya?.” Kataku setengah tertawa. Dia menatapku lalu menyentuh tanganku, matanya merah dan berlinang air mata.

“Karena ini bisa membuat kita kuat. Hanya beberapa orang yang bisa bertahan merasakan ini. Kita diberi pelajaran sebelum melewati ujian yang lebih berat nanti. Itu alasan mereka berbeda dengan kita.” Katanya. Aku tahu, aku memang tidak sendiri. Masih ada dia yang menangis didepanku, masih ada anak lain yang juga merasakan hal yang sama. Mereka melampiaskan amarah mereka pada hal yang diluar dugaan mereka. Itu hanya karena mereka kurang diperhatikan. Dunia ini terlalu beragam bagi penghuninya.. khususnya mereka..



-TOS-



Aku sangat beruntung. Lebih beruntung dari mereka-mereka yang memiliki kesempurnaan diatasku. Aku beruntung masih bisa melihat dan belajar dari kehidupan orang lain. Aku beruntung masih bisa menjadi pundak tangis mereka, bahkan terkadang menjadi pundak tangis bagi diriku sendiri. Bukankah itu semua bertujuan untuk membuat kita belajar, menghargai dan berpegang tangan dengan mereka yang kurang dari kita? Tidakkah seseorang mengira, bahwa dibalik senyumnya, tawanya, dia memiliki sesuatu yang ditahan dalam hatinya?





“Semakin berat ujian diberikan pada Tuhan, maka semakin kuatlah kamu dari mereka-mereka yang lain. Bukankah begitu?.” Katanya sembari menangis, nada suaranya ditekan, dia menepuk pundakku dengan kuat. Aku tahu dia berupaya untuk membuatku bangun, membuatku bertahan. Aku masih memeluknya. Erat sekali, tanganku yang lebam kupandang dari mataku yang berlapis air mata, dia memelukku lebih erat. Seakan mencoba menopang diriku yang hampir jatuh.

“Aku memang tidak bisa apa-apa untukmu. Aku minta maaf.. tapi jangan lukai dirimu lagi.. tolong..” Katanya yang kini mulai menangis sama sepertiku. Aku merasakan air matanya membasahi rambutku. Aku merasakan tubuhnya bergetar karena isak tangis. Temanku yang satunya lagi memelukku dari punggung yang lain, air mataku mulai berkurang. Saat itu kami berada tepat diluar rumahku. Pelukan konyol kami terasa sangat memalukan, memalukan bagi orang yang melihat kami. Tapi tidak bagiku, sekali lagi.. aku beruntung memiliki mereka yang siap menjadi tongkatku ketika aku jatuh.. Terima kasih..




-INS&MBH-



Satu hal yang aku tahu, dan aku yakin mereka yang lain juga percaya hal ini. “kegelapan tidak tak selamanya abadi.” Selalu ada sinar walau diujung sana. Seperti halnya Tuhan menciptakan 12 jam pagi dan 12 jam malam, seperti halnya Tuhan membiarkan kami tetap ada walau posisi kami begini, seperti halnya lautan biru yang luas dan luar angkasa yang gelap sama-sama menyimpan ribuan misteri.




“Kau tau Romeo memiliki cinta pertama sebelum bertemu Juliet?.” Kataku tertawa. Kami sedang bersepeda sambil hujan-hujan. Kami masih memakai seragam sekolah. Derasnya air hujan membuat suaraku terpedam aneh.

“Aku tidak tahu Romeo punya cinta pertama.” Katanya setengah berteriak. Suara kami terdengar kecil sekali. Aku menggenjot trali sepeda, dia menyusulku dari belakang. Kami sudah berjejer sekarang.

“Shaskspare tidak pernah membahasnya. Gulungan kertas kisah pertama romeo ditemukan ketika dramanya sudah selesai dipentaskan.” Kataku.

“Kenapa begitu?.” Katanya penasaran. Aku berpikir sejenak, butiran air hujan mulai menipis. Kulihat awan diatas.

“Kalau semua tau Romeo punya cinta pertama. Kurasa kisah Romeo&Juliet bukan kisah cinta romantis sepanjang masa.” Kataku. Dia terdiam, berpikir sejenak.

“Apa yang terjadi dengan cinta pertama Romeo?.” Katanya. Aku mengangkat pundak.

“Romeo meninggalkan dia begitu saja setelah bertemu Juliet.” Kataku singkat.

“Segampang itu?.” Katanya terkejut. Aku tertawa.

“Apa yang kau harapkan dari Romeo? Kesempurnaan seorang Adam?.” Dia tersenyum.

“Jangan berpuitis lagi please..” Katanya menyindir. Aku tertawa lagi.

“Aku pikir dia memilih berselingkuh lalu mati seperti kisah Lady Diana dan pangeran Charles.” Katanya beropini. Aku terdiam.

“Kau pikir Lady Diana tahu kisah cinta pertama Romeo?.” Tanyaku padanya.

“Entahlah.. mungkin saja. Kalau dia cinta sejati Charles, dia tidak akan mati sekarang. Tapi justru Charles masih tetap bersama Camelia. ” Katanya menebak. Aku terdiam.

“Kalau aku jadi Lady Diana, aku memilih pergi dari hidup pangeran Charles, kabur lalu tidak diketahui keberadaannya dimana. Memilih untuk tidak usah dibicarakan seperti Georgina yang kisahnya disimpan rapi Shaskspare hingga seseorang menemukannya.” Kataku.

“Georgina?.” Katanya sembari menoleh padaku.

“Dia cinta pertama Romeo..” Kataku tersenyum.

-SWD-

Hitam Putih


Kau tau? Jika aku adalah manusia satu-satunya didunia ini, maka aku akan memilih untuk hidup tanpa apapun. Jika aku adalah makhluk terakhir yang ada didunia ini, aku akan memilih mati bahkan berharap untuk tak pernah dihidupkan lagi. Tapi bagaimana dengan mereka? Soe Gok Gie, Kitou Aya, Anne Frank bahkan Lady Diana dan mereka-mereka yang lain. Mereka adalah manusia yang hidup dengan mimpi yang buta, mereka menutup mata sebelum apa yang mereka inginkan tercapai. Bagaimana dengan mereka yang hidup dengan penuh kebahagiaan? Dan bagaimana dengan mereka-mereka yang hidup kebalikan dari semua itu? Pernahkah kau sadari bahwa jika kau bercermin, wajahmu terlihat baik-baik saja, tapi bagaimana dengan wajahmu yang terpantulkan? Apakah dia juga baik-baik saja?

“Aku tau bagaimana diriku yang sekarang.” Ujarnya, sembari tersenyum padaku.
“Setidaknya kau tetap ingin ke Jepang kan?.” Ujarku tertawa kecil.
“Aku sudah janji pada ibuku. Aku akan menepatinya.” Katanya lirih. Aku mengangguk setuju.
“Menurutku, neraka adalah tempat orang-orang terbuang, orang-orang yang mati, orang-orang yang tenggelam di air mata mereka sendiri. Mungkin aku akan kesana suatu saat nanti.” Katanya tiba-tiba. Kami berdua terdiam. Aku meneguk kopiku lagi. Kami sudah duduk 2 jam dengan pembicaraan tanpa akhir. Dia bukan orang yang spesial untukku, dia sama denganku. Kami bertemu dengan kesamaan yang banyak. Itu yang membuat kami selalu bersama, dan terkadang kami merasa kembar.
“Aku takut.” Kataku sembari tersenyum. Dia menoleh padaku.
“Aku pernah bermimpi, tapi dulu.” Kataku lagi, kini aku benar-benar tertawa. Dia tersenyum lalu meneguk kopinya, aku tahu dia menunggu.
“Aku berada di sebuah panggung, aku melihat diriku yang lain sedang berbicara membacakan puisi. Tetapi para penonton tak memperdulikan aku yang sedang berbicara, aku melihat adegan itu dengan heran. Mengapa semua orang tak mendengarkanku? Lalu ketika aku mendekati diriku, aku menyadari, diriku yang membacakan puisi itu menangis.” Kataku. Dia mendengar ceritaku dengan alis mengkerut. Lalu aku melanjutkan ceritaku.
“Aku masih tak mengerti apa yang terjadi, lalu aku mendengar suaraku yang membacakan puisi. Entah mengapa, ketika aku tertidur pun, aku merasakan air mataku benar-benar jatuh. Aku yang melihat diriku membacakan puisi juga menangis. Tapi aku masih tak tahu apa yang dibacakan diriku di puisi itu. Aku benar-benar takut, bahkan sampai saat ini.”
“Lalu adegan itu terganti, kau tau? Seperti sebuah film. Lenyap begitu saja.” Kataku setengah tertawa. “Dan aku berdiri lagi ditempat yang sama, sebuah panggung, para penonton dan diriku yang lain. Tapi, adegan itu tak berwarna, Hitam Putih, tidak seperti yang sebelumnya. Diriku mulai membacakan puisi yang lain, aku menunggu. Aku melihat diriku yang lain membacakannya dengan bibir yang bergerak, tapi aku tak bisa mendengar satu kata pun. Aku tak tahu apa yang dibacakan diriku yang disana, hingga akhirnya aku menyadari. Semua penonton menangis, tapi diriku yang membacakan puisi tak meneskan air mata sedikitpun, sepertiku yang asli. Aku masih tak mengerti apa yang terjadi, karena aku tak mendengar apa yang kukatakan disana. Hingga akhirnya aku terbangun. Mataku sembab, aku merasakannya.” Kataku mengakhiri. Dia diam, ekspresinya datar. Aku berharap dia mengatakan sesuatu.
“Apa aku pantas untuk takut?.” Kataku.
“Apa aku pantas untuk bilang ‘tidak’?.” Katanya seraya tertawa. Aku tersenyum kecil.
“Banyak hal didunia ini yang belum kita tahu artinya, kau sendiri tau arti dari kata ‘cinta’?.” Katanya dengan suara menghina.
“Cinta itu buta.” Ujarku singkat. Dia tertawa.
“Hanya itu?.” Katanya dengan nada suara menghina.
“Well, Kahlil Gibran bilang, cinta adalah saat dimana kau mau berkorban demi rasa kasih sayangmu. Bella Swan bilang, cinta adalah mati, maksudnya kau rela memberi apapun demi cinta itu. Romeo bilang, cinta adalah anggur, kau akan mabuk jika sudah merasakannya. Dewi Lestari bilang, cinta adalah ketika kau merasa dia adalah belahan jiwamu. Lalu, bagaimana denganmu?.” Katanya memberi pentunjuk.
“Sejujurnya, aku lebih setuju dengan anggapan Kahlil. Cinta itu tak adil, jika memang kita bahagia ketika jatuh cinta, mengapa kita harus sakit di akhirnya?.”
“Entahlah, mungkin karena kita tak diharuskan menghabiskan waktu untuk lama-lama merasakan cinta.” Katanya nyeplos, aku tertawa.
Hey.. kita masih 16 tahun. Kau tak akan memperburuk masa mudamu dengan menangis di kamar seharian karena baru putus kan?.” Katanya melontarkan kata-kata itu dengan sejujur-jujurnya. Mungkin dia benar, buat apa menghabiskan waktu merasakan sakit jika sudah tahu akhirnya? Dia mengambil handphone di sak celana jinsnya, dia memencet beberapa tombol lalu mengantongi handphonenya lagi. Aku memerhatikan setiap gerak-geriknya. Lalu dia menatapku.
“APA?.” Katanya histeris. Aku terheran-heran. Ekspresinya seperti melihatku hantu.
Well, aku heran. Cobalah untuk sesekali PDKT sama perempuan. Itu yang sms tadi pacar kamu?.” Kataku. Ekspresinya antara marah dan tersinggung. Aku tertawa lalu meneguk kopinya yang tinggal sedikit.
“Kita tidak akan membicarakan ini lagi kan? Itu bukan pacarku, itu pembantuku.” Katanya mengingatkan. Aku mengangkat bahu. Dia meneguk kopinya lagi, aku mengalihkan pandanganku menuju pekarangan bunga. Begitu banyak warna dilapangan kecil itu, matahari seakan menyiram bunga-bunga itu dengan sinarnya. Mereka bergerak kesana kemari mengikuti arah angin. Entah mengapa aku merasa iri, dunia ini masih menyimpan sesuatu yang indah seperti mereka. Haruskah kita bersyukur? Tentu saja. Itu kata pertama yang terpikirkan dikepalaku. Mungkin yang dikatakan temanku ini benar, suatu hari dia pernah bilang, “Bukankah kita diberi semua ini bukan untuk kesia-siaan?.” Aku tersenyum kecil, aku merasa sedikit bersyukur aku masih bisa melihat ini semua.

“Jadi bagaimana dengan novelmu?.” Katanya membuyarkan lamunanku.
“Sudah ada 8 buku.” Kataku bodoh.
“Dan tidak kau terbitkan?.” Katanya sedikit tidak percaya. Sekitar 12 detik aku terdiam sebelum menjawab pertanyaannya.
“Bukan saatnya mereka dipublikasikan.” Kataku polos. Dia memasang tampang tak percaya, dia menggelengkan kepalanya. Aku tahu apa yang akan dia jawab.
“8 Novel dan salah satunya sudah kau buat lebih dari 3 tahun! Apa yang kau pikirkan?!.” Rupanya perkiraanku benar. Beberapa hal yang kupikir sulit untuk kumengerti, dan herannya, orang-orang tertentu yang mengerti diriku juga merasakannya. Pertama, tawaran sekolah di Jakarta gratis. Jelas aku menolak, jika bukan karena orang tua dan sahabat mungkin aku sudah terbang ke Jakarta sejak tahun ajaran baru di SMA. Kedua, biaya kuliah di tanggung jawab nenekku, orang tuaku benar-benar menolak mentah-mentah tawaran itu. Begitu juga denganku, buat apa aku meraup uang masa tua seorang nenek-nenek sedangkan aku masih bisa menabung sendiri? Tapi untuk masalah ini memang belum ada jalan keluarnya, aku harap aku bisa mengatur itu sendiri mengingat aku akan kuliah jauh dari orang tua. Bibiku adalah dosen di UGM, dan aku mulai membuka diri untuk masuk disana, seperti kata ayahku “Niat dulu, banyak-banyak berdoa. Itu kan pilihanmu sendiri nak.”. Yah, aku pasti bisa menghadapinya. Dan ketiga, menjadi penulis. Aku hanya bisa tertawa jika membicarakan masalah ini.

“Aku merasa konyol jika harus menerbitkannya.” Kataku tertawa renyah. Karena kopiku sudah habis, dan kurasanya cangkir miliknya juga sudah kosong. Maka aku memutuskan untuk mengisi cangkir kami.
“Mau kopi lagi?.” Kataku menawarkan.
“Enggak.” Katanya sembari memejamkan matanya. Aku bediri lalu masuk ke dalam rumah. Adik-adikku sedang menonton tv dan ibuku sedang menulis sesuatu di meja makan. Beliau membaca kata perkata begitu detailnya sampai alisnya mengkerut sempurna seakan terlihat segaris. Kaca matanya yang persegi panjangnya yang melekat di tulang hidungnya begitu dekat jaraknya dengan tulisan di kertas.
“Buk, jangan kecapekan ya?.” Ujarku mengingatkan. Ibu tidak menjawab, aku tahu bahwa jika sudah begitu ibu pasti tak peduli dengan apapun. Bahkan mungkin jika terjadi gempa ibu akan terus menulis. Ini adalah sifat yang diturunkan secara sempurna padaku. Aku kembali teras dan duduk di kursiku lagi. Dia diam dengan tatapan tak tahu arah, matanya kosong. Jika bukan aku, mungkin orang lain akan mengira dia kesurupan atau sebangsanya. Tapi aku tahu dia sedang berpikir, bukan melamun. Kami sudah berteman sekitar 3 tahun, kami bertemu pertama kali karena sebuah lagu. Ya, kami bertemu karena sebuah lagu. Judulnya Nobody’s Home dari penyanyi Avril Lavigne. Lagu itu sejak pertama kali kudengar, adalah lagu yang paling cocok untukku. Dan ketika aku mendengar lagu itu lewat handset, dia duduk disebelahku lalu melihat layar hpku dan membaca judul lagu yang kudengar. Aku tidak melihat reaksi dia ketika itu, aku sedang menikmati lagu sembari melihat orang lalu lalang didepan toko. Dan ketika lagu itu habis, dia menepuk pundakku lalu tersenyum dan berkata, “Maaf, aku kira selera musik mu buruk, ternyata aku salah.”. Karena kalimat itu, kami berteman selama 3 tahun. Kami punya selera, mimpi, dan harapan yang sama. Walau cita-cita kami berbeda, tapi kami punya keyakinan bahwa kami bisa mewujudkannya.

Dia ingin menjadi seorang mangaka, dan aku ingin menjadi seorang penulis. Dia adalah sahabat laki-lakiku. Sudah lebih dari sepuluh orang bilang kami adalah sepasang kekasih, aku sama sekali tidak setuju dan tentu saja aku menyangkalnya, kami bukanlah sepasang kekasih. Kau bisa bayangkan bagaimana Sir Athur Conan Doyle dan Mr. Watson, atau gampangnya, seorang manusia dan hewan peliharaannya. Itulah kami, kami saling membutuhkan. Aku mungkin bisa menangis di depan teman perempuanku, tapi mereka hanya bisa memeluk dan menepuk pundakku lalu memberi kata semangat. Tapi dia, dia tidak memeluk atau menepuk pundakku. Tapi dia memberi gambaran bahwa yang aku alami bukan apa-apa jika dibandingkan masalah orang lain, kata-kata itu yang buatku mengangkat kepala dan berhenti menangis. Dia memberi kata-kata yang bisa buatku bangun dari keterpurukan dan tersenyum bahkan tertawa. Banyak hal yang tak bisa kita deskripsikan didunia ini, itulah yang terjadi pada kami. Kami tak tahu banyak tentang diri kita.

Kami cukup berdiam lama sekarang. Dan akhirnya dia berhenti dari lamunannya lagi, lalu berkata.
“Eh, apa kabar sama orang tuamu?.” Ujarnya penasaran. Aku melengkungkan bibirku. Jelas aku tak ingin membahas hal semacam ini. Tapi toh aku mau membicarakannya, anak muda memang selalu punya alasan.
“Mereka lebih baik.” Kataku. Dia menganggukkan kepala, lalu menungguku mengucapkan sesuatu.
Well, aku tak berani beranggapan mereka benar-benar sudah akur.” Kataku.
“Kau tak mau bicara pada ayahmu?.” Katanya mengoreksi. Lama bagiku untuk menjawab.
“Tidak.” Kataku singkat. Dia menghela nafas.
“Kau orang yang parah.” Katanya seraya membuang muka. Aku sedikit mengkerutkan dahi ketika dia bicara begitu.
“Terkadang diam adalah pilihan terbaik dalam suatu masalah.” Kataku menyimpulkan.
“Orang tuamu akan tetap begitu tapi kau tetap memilih diam?.” Katanya menekan. Aku mulai mengatur posisi dudukku, lututku kupeluk dengan kedua tanganku.
“Orang dewasa memang tak tahu apa yang dipikirkan anak kecil. Tapi justru karena anak kecil lah mereka bisa mengoreksi diri mereka. Kau anak mereka, begitu juga adik-adikmu. Kau seorang kakak. Kau terlalu lama berdiam diri.” Katanya sedikit menekan pada suaranya. Aku masih terdiam dalam posisiku. Bagiku masalah keluargaku bukan topik hangat untuk dibicarakan a,ntara aku dan dia. Aku sudah terlalu lama memendam rasa tertekan, takut, sedih. Itu alasan mengapa aku tertutup pada orang-orang. Aku lebih suka berdiam diri di luar ruamh daripada kumpul di mall bersama teman-teman, aku lebih suka sendirian. Jika aku melihat diriku di cermin, aku merasa Hitam Putih. Aku merasa kusam dan tak berwarna.
“Dunia ini penuh dengan kebohongan. Aku tak pernah setuju jika ada seseorang bilang dia bahagia dengan apa yang dimilikinya. Mereka egois. Mereka tak memiliki hati. Bagaimana dengan nasib orang-orang yang tak punya diluar sana? Mereka butuh makan, mereka butuh tempat tinggal, mereka butuh uang. Tapi mereka bahagia, walau hanya mengais di tempat sampah, setidaknya mereka bisa makan bersama dengan keluarga mereka, hidup mereka lengkap.” Ujarku.
“Dan anehnya, aku benar-benar iri dengan orang-orang yang seperti itu.” Kataku setengah tertawa.
“Kita tidak hidup di hutan. Hutan lebih buruk, kau akan melihat keluargamu dimakan oleh pemangsa. Atau bahkan kau akan melihat keluargamu memakan hewan-hewan lainnya. Mereka semua berputar, itulah hidup.” Ujarnya. Aku terdiam dan merasakan air mata membendung mataku.
“Cobalah untuk sedikit berpikir apa yang akan terjadi nanti. Kita semua berjuang, aku berjuang dan kau juga. Jika kau menulis beribu-ribu kata di setiap lembar untuk membuang semua emosimu, untuk apa? Kau ingin menangis di ceritamu? Kau tak akan pernah bahagia. Cobalah untuk sedikit saja berpikir untuk dirimu sendiri. Apa yang kau lakukan sekarang sama dengan menyiksa dirimu.” Air mataku turun perlahan-lahan. Wajahnya tidak menunjukkan rasa kasihan atau simpati, justru dia memasang tampang menghina.
“Ibarat, kau sudah terlalu lama tertidur. Apa aku perlu menyiramkan air untuk membuatmu bangun?.” Katanya. Bibirku sedikit melengkungkan senyuman. Matahari mulai menampakkan ketidak hadirannya, siang pun berganti malam. Kami sudah mengobrol sekitar 2 jam lebih. Awan mulai hitam pekat, titik-titik sinar bintang berhias dilangit. Bulan melingkar tenang seakan tertidur. Dia mulai beranjak dari duduknya, aku menyusul untuk berdiri lalu merapikan rambutku dan wajahku. Tidak banyak air mata hari ini. Aku bersyukur tak harus masuk kamar mandi dan cuci muka lalu mendengar adik-adikku bilang mataku sembab, sangat memalukan memamerkan tangis dimata orang banyak. Dia memakai sepatunya lalu mengambil kunci motor di sakunya.
“Ibumu?.” Katanya sembari menunjuk pintu rumahku.
“Dia mungkin sedang sholat.” Kataku singkat. Jika dia ijin pulang pada ibuku, ibu pasti berkomen untuk menyuruhnya sesekali menginap disini. Kami memang sudah seperti saudara. Dia berjalan menuju motornya, lalu memasukkan lidah kunci pada lubang kunci motor lalu keluar dari pagar rumahku. Dia memakai helmnya lalu membenarkan spion motor dan memedal gas.
“Ada kata terakhir?.” Ucapnya. Aku selalu didesakkan dengan kata-kata ini. Ini seperti sebuah janji, jika kau mengatakan apapun yang ada didalam isi hatimu, kau harus lakukan sesuatu agar sesuatu itu tak menjanggal lagi.
“Hmmm.. I want to be free?.” Kataku setengah tertawa.
“Sudah bosan.” Katanya berpikir. Aku berpikir lagi. Mataku mengarah pada langit berbintang di atas. Berharap ada sesuatu yang dapat memberiku masukan. Dan aku melihat semuanya didepan mataku, semua yang berwarna, langit, tanah, rumah-rumah, tumbuhan, dia bahkan aku. Kami semua berwarna. Tuhan benar-benar luar biasa membuat sesuatu seragam ini. Aku benar-benar buta.
“Aku ingin berwarna.” Kataku tersenyum. Dia tersenyum lalu mengangguk sekali lalu pergi bersama motornya menembus angin malam.

Gweelov Viantz : Story 2

Sabtu, 09 April 2011


Bulan bersinar terang, bulat dan putih keperakan. Tiada suara kecuali bisikan malam dari binatang kecil. Tapi ditempat lain, seorang wanita itu berjalan tergesa-gesa. Suara hentakan sepatu hak tingginya mengaung di lorong yang ia lewati. Wajahnya terlihat khawatir sekaligus takut. Wanita itu masih memakai pakaian tidur dan rambutnya yang merah menyala diikat buntut kuda dengan paksa.
“Nyonya, anaknya perempuan.” Sahut seorang gadis yang tiba-tiba dari belokan. Wanita itu menghela nafas.
“Biarkan ibunya menginap sebentar, lalu pulangkan dia kembali ke desanya.” Ujar wanita itu tegas.
“Tapi nyonya, bayi itu masih membutuhkan asi..”
“Aku adalah ibunya sekarang!.” Ujar wanita itu mengerang pada gadis itu. Gadis itu menunduk lalu pergi. Wanita itu kembali berjalan dengan cepat.

Rumah sebesar itu bukan tempat yang bagus untuk mencari kesunyian. Tiada rahasia dirumah itu. Semua pembantu dan pengawal sibuk dengan apa yang mereka lakukan. Para pembantu wanita mondar-mandir disekitar lorong. Wanita itu tetap berjalan, ia berhenti di pintu yang sedikit terbuka. Wanita itu menghela nafas, lalu membukanya perlahan. Ruangan itu sempit, penerangan hanya berasal dari 4 lilin yang mengitari sebuah kasur berkanopi yang ditiduri seorang wanita lemah yang setengah tertidur. Sulit dipercaya rumah semegah dan sebesar ini memiliki kamar seperti ini, lebih mirip kamar sapu. Wanita itu merintih, banyak pembantu yang mengitarinya, mengelap keringat di dahinya. Wanita itu berjalan perlahan menuju wanita lemah itu, semua pembantu menunduk seakan memberi hormat dan memberi jalan.
“Aku harap dia laki-laki, Charlotte.” Ujarnya tanpa belas kasihan. Wanita bernama Charlotte itu menolehkan kepalanya dengan perlahan dan memandang wanita itu. Dia tersenyum lalu menghela nafas.
“Aku lebih suka kalau dia perempuan.” Katanya seraya tersenyum. “Dia pasti cantik.” Ujarnya lagi.
“Aku rasa tidak.” Ujar wanita itu dengan sinis.
“Bersihkan bayi itu lalu tidurkan dia di kamarku!.” Ujarnya lagi pada para pembantu yang sedang memandikan seorang bayi kecil. Charlotte memasang tampang bingung.
“Apa yang kau lakukan Hellena?.” Ujarnya terkejut. Wanita bernama Hellena menatap matanya lagi.
“Perjanjian selesai, kau hanya melahirkan anak itu. Lalu dia akan menjadi milikku.” Ujarnya lalu berbalik pergi.
“Hey! Apa maksudmu!?.” Ujar Charlotte setengah berteriak. Hellena berhenti tepat sebelum dia keluar dari pintu. Ia diam lalu berbalik.
“Tinggalkan kami!.” Ujarnya kasar. Para pembantu bergegas menuruti.
“TIdak! Biarkan aku melihat putriku.” Ujar Charlotte. Hellena menatap Charlotte dengan alis mengkerut.
“Berikan bayi itu.” Ujarnya pada seorang wanita paruh baya yang menggendong bayi mungil dengan selimut putih satin. Bayi itu diserahkan perlahan-lahan pada Hellena. Para pembantu menutup pintu, lalu sunyi.
“Aku punya hak atas anak itu. Aku lah ibu yang melahirkannya.” Ujar Charlotte setengah menangis. Ekspresi Hellena datar seakan tak peduli.
“Anak ini adalah putri ayahnya. Akulah istri ayahnya sekarang. Perjanjian usai, ayahnya hanya ingin putri ini, bukan dirimu.” Ada penekanan pada kata “dirimu” ketika Hellena mengatakannya. Charlotte benar-benar lengah. Dia menarik nafas lalu mulai menggerakkan tubuhnya, kakinya yang telanjang menyentuh lantai yang dingin. Dia berjalan sempoyongan, Hellena tetap pada tempatnya. Charlotte lemah, dia berkeringat, tubuhnya masih langsing walau seusai melahirkan. Dia berdiri di depan Hellena. Mereka saling bertatapan. Air mata turun dari pelopok mata Charlotte. Dia mengangkat tangannya lalu mengelus pelan pipi bayi mungil itu. Jarinya yang berkeringat dan kotor bertemu dengan kulit putih mulus dari sang bayi.
“Bisakah aku bertemu dengannya lagi?.” Ujar Charlotte yang masih mengeluarkan air mata. Hellena lama diam. Lalu dia bicara pelan seperti bisikan.
“Akan lebih baik kalau dia tidak mengenalmu. Dia akan menjadi putri yang cantik, kaya, dan mempesona. Dia pasti akan kecewa mendengar bahwa dia lahir dari rahim wanita sepertimu.” Katanya tanpa perasaan. Charlotte memandang Hellena dengan tampang hina.
“Kau adalah perempuan busuk.” Ujarnya pelan. Hellena puas dengan ucapannya, dia berbalik menuju pintu. Meninggalkan Charlotte diam membatu. Ketika pintu berdecit terbuka, Hellena menoleh kembali pada Charlotte.
“Satu pesanku kakakku sayang.” Katanya dengan wajah bahagia. Charlotte memandangnya, matanya merah menahan marah dan tangis.
“Anakmu akan kuberi nama Gweelov, dan Viantz dari marga ayahnya. Gweelov adalah nama kuberi. Jangan khawatir, aku akan membuat anakmu cantik seperti dirimu. Tapi aku tak akan membuat dia buta akan cintanya, seperti kau buta pada cintamu pada suamiku. Anak ini..” Hellena mengecup lembut dahi bayi digendongannya.
“Akan mejadi putri yang dicintai semua lelaki di kota ini.” Katanya sembari tersenyum puas. Dia menutup pintu tanpa memandang Charlotte lagi. Diruangan sunyi dan sepi itu, terdengar isak tangis seorang wanita yang telah melahirkan seorang gadis paling rupawan di kota itu. Malam itu masih sunyi, bulan kini tertutup awan hitam. Wanita bernama Charlotte berjalan lemah menuju jendela kamarnya, dia memanjat dan berdiri di ambang jendela, rambutnya yang coklat legam, persis dengan rambut putrinya terbang lembut. Air mata terakhir keluar ketika wanita itu jatuh dari jendela.. Malam itu seakan tersihir, tak ada suara apapun.. Bulan kini muncul dibalik awan.

“Aku Gweelov Viantz,
Ibu pernah bilang padaku, “Percayalah, kau adalah putriku yang cantik. Kau akan menemukan banyak lelaki yang akan berbaris untuk menikahimu, kau akan bahagia.”. Bagiku, dunia terlalu sempurna untuk gadis sepertiku. Apa ada maksud dibalik ini?...”

Gweelov Viantz : Story 1.

Jumat, 08 April 2011


Dia menalikan sepatu hak tingginya dengan jarinya yang panjang. Kuteks merah maron menghiasi kuku-kukunya yang indah. Ketika ia selesai menalikan sepatu haknya dia mulai duduk tegak dan melihat pantulan wajahnya dari kaca. Rambutnya coklat legam seperti warna kawat yang digelung sedemikian rapi dan menawannya. Wajahnya lonjong sempurna. Matanya terlihat cantik dengan bulu mata lentik dan warna mata hijau bening. Bibirnya tipis indah, terbayang jika dia tersenyum maka semua yang melihatnya akan tersihir dengan kecantikannya.
“Kau siap?.” Kata wanita yang tiba-tiba datang dan sedang membawa nampan berisi beberapa lusin gelas berleher panjang dan serbet yang ia taruh di pundaknya. Gadis itu menarik nafas panjang lalu mentutul-tutulkan jarinya di bibirnya untuk memperbaiki lipstiknya.
“Kau cantik sekali.” Kata wanita itu lagi. Gadis itu berdiri dan memperbaiki lengkukan pada gaun merah gelapnya. Gaunnya tak berlengan dan tak memiliki kerah. Menampakan kulitnya yang putih yang amat serasi dengan warna gaunnya.
“Aku tahu.” Ucapnya muram. Dia berbalik dan keluar kamar dengan gaya jalannya yang lunglai.
Musik valtz berbunyi lembut ketika wanita itu berjalan menuruni tangga dengan jalannya yang glamour. Ruangan itu besar dan luas berbentuk persegi empat, jendela-jendela besar hampir menutupi setiap inci tembok ruangan, terlihat awan hitam malam yang menghias diluar. Dibawah dekat tangga, terdapat piano hitam tanpa pemain. Lantai ruangan itu berwarna emas, terdengar suara orang yang berdesing dengan mengobrol. Hampir seluruh pengunjung memperhatikan bagaimana gadis secantik itu turun dengan anggunnya di tangga. Dan anehnya, wanita cantik itu tidak meperlihatkan ketertarikan sedikitpun pada acara ini. Wajahnya yang indah bagai pualam tetap menampakkan ekspresi datar yang sempurna. Setelah salah satu sepatu haknya menyentuh lantai datar dia berjalan anggun menuju gerumbulan wanita bergaun glamor yang membawa gelas gin panjang. Salah satu gadis itu, memakai gaun hijau muda dengan rambut putih yang dibiarkan tergelombang indah hingga pinggulnya.
“Kau selalu menjadi yang terakhir, Gweelov.” Katanya seraya memberi segelas gin berwarna madu padanya.
Gadis itu tak menjawab, dia diam lalu meneguk lembut lingkaran gelas panjang itu. Musik valtz kini berganti dengan music lembut gaya barat yang dimainkan dengan piano. Suara piano menggema indah, semua terdengar sempurna.
“Aku menunggu Lionel.” Ucap gadis berambut putih itu tiba-tiba. Matanya sedang mencari sesuatu dari gerumbulan orang. Gweelov meneguk kembali ginnya.
“Dia tak datang.” Kata Gweelov tiba-tiba. Gadis berambut putih melihatnya dengan tidak percaya.
“Bagaimana kau tahu?.” Katanya. Gweelov tidak menjawab. Dia memandang kosong lantai dansa didepannya.
“Mau berdansa denganku?.” Seorang lelaki menjulurkan tangannya dihadapan Gweelov untuk mengajaknya berdansa. Gweelov meneguk kembali ginnya, lalu bicara.
“Maaf, kau mungkin bisa mengajak temanku.” Gweelov mengambil tangan milik gadis berambut putih itu dan menaruhnya di tangan lelaki itu.
“Berdansalah dengannya Lucy…” Gweelov mengambil gin milik Lucy, “Kau membutuhkannya lebih dari aku.” Kata Gweelov memberitahu. Lucy menyetujui saran Gweelov dengan ekspresi masih tidak percaya. Lalu pasangan itu berjalan menuju lantai dansa dan mulai menari anggun.
Gweelov tetap pada tempatnya. Kedua tangannya menggenggam gelas gin yang panjang. Setelah sekian lama dia berdiri diam, dia berbalik lalu membuang gin madu di pot bunga mawar yang besar dibelakang gerombolan orang sedang mengobrol. Dia berjalan cepat, menimbulkan bunyi sepatu haknya.
Gadis itu berjalan menuju ruang gantinya lagi. Ketika dia membuka pintu, wanita yang tadi membawa minuman dan serbet sedang menyapu memebersihkan tempat itu.
“Kenapa kembali?.” Katanya terkejut. Gweelov menarik sofa berkaki dan mulai berkaca. Dia mengambil sehelai tisu lalu membersihkan bibirnya dengan kasar, bekas lipstiknya berantakan dibagian pipinya. Dia membersihkan perona merah pada pipinya dan membersihkan mascara serta aye shadow dengan kasar. Wajahnya yang tadinya sempurna berubah menjadi berantakan.
“Apa yang kau lakukan?.” Kata wanita itu.
“Bantu aku mengganti baju.” Katanya . Wanita itu menuruti Gweelov dan menbantunya mengganti baju. Setelah Gweelov mengganti baju dengan haun putih pualam sederhana, wanita tadi datang membawa ember beralas rendah berwarna perak kecil dan handuk putih lalu ditaruhkan dihadapan Gweelov. Gweelov mengambil handuk itu lalu membersihkan wajahnya.
“ Aku tidak pernah menyukai ini Barbara.” Katanya. Kini bibirnya mulai bersih dari bekas lipstick.
“Berhati-hatilah sedikit, ini air panas. Bisa melukai wajahmu.” Ujar Barbara yang dengan kasar mengambil handuk ditangan Gweelov lalu memerasnya agar air panas bisa sedikit hangat. Gweelov tidak marah atau tersinggung, dia masih memandang wajahnya di kaca.
“Seharusnya kau tahu, sebenarnya tak ada yang peduli jika aku menjadi jelek dengan air panas itu.” Barbara terpaku dengan ucapannya. Gweelov tetap memandang kaca dengan muram.
“Aku hanya putri kecil yang kaya dan tersesat diantara emas yang dilimpahkan padaku.” Kata Gweelov. Barbara mengulurkan tangannya lalu mengusap lembut di wajah Gweeloh yang cantik.
“Itu tak akan mengubah apapun. Kau akan tetap menjadi putri kecil yang kaya dan apapun yang kau mau akan terwujud dengan sendirinya.” Ujar Barbara. Seuasai wajah Gweelov bersih, Barbara melepas gulungan rambut Gweelov dan menyisirkannya dengan lembut. Gweelov masih menatap wajahnya di kaca, rambutnya kini rapi, panjang, bergelombang, coklat legam.
"Lihat? Kau cantik. Dan kau akan tetap cantik, lebih cantik dari apapun. Mengerti?." Ucap Barbara. Barbara berjalan keluar kamar meninggalkan Gweelov sendirian.
Gweelov tetap diam memandang wajahnya di kaca. Tak ada yang tahu apa maksud hatinya. Dia akan tetap diam..

“Aku Gweelov Viantz,
Berlian diciptakan dengan dipoles, tidak bagi emas. Berlian hanya bersinar, bergemerlap, dan indah. Aku ingin menjadi emas, aku ingin jadi diriku sendiri...”
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS